BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Gerak manusia dihasilkan oleh kontraksi otot yang menghasilkan gaya untuk
menggerakkan anggota badan. Pada gerak sadar, sinyal perintah dari pusat sistem
syaraf ditransmisikan melalui syaraf tulang belakang (spinal cord) lalu ke otot
untuk menghasilkan gaya. Otot berfungsi dengan normal jika antara sistem
syaraf, spinal cord, dan otot terhubung secara utuh dan bekerja
dengan baik. Kerusakan pada sistem syaraf yang diakibatkan penyakit yang
menyerang syaraf tulang belakang (spinal cord injury, SCI) akan mengganggu
sinyal perintah mencapai otot.(Bafirman : 2007 )
Otot adalah sebuah jaringan konektif yang tugas utamanya adalah
berkontraksi yang berfungsi untuk menggerakan bagian-bagian tubuh baik yang di
sadari maupun yang tidak. Sekitar 40% berat dari tubuh kita adalah otot. Tubuh
manusia memiliki lebih dari 600 otot rangka. Otot memiliki sel-sel yang tipis
dan panjang. Otot bekerja dengan cara mengubah lemak dan glukosa menjadi
gerakan dan energi panas. Otot rangka melekat pada tulang secara langsung
ataupun dengan bantuan tendon. Otot bekerja berpasangan satu berkontraksi dan
lawannya relaksasi sehingga otot bisa menggerakan berbagai bagian dari tubuh
manusia seperti lutut yang bisa dibengkokan maupun di luruskan.
Otot manusia merupakan suatu alat yang penting untuk menunjang pergerakan
atau selama aktifitas. Pergerakan otot sadar diawali dengan adanya sebuah
sinyal dari syaraf motorik (gerak) yang memerintahkan agar otot ini bergerak
sesuai dengan batasan kemampuan geraknya. Tanggapan atau reaksi otot ini
sepenuhnya tergantung pada kondisi otot itu sendiri. Sehingga apabila kondisi
otot tersebut terganggu, maka pergerakan yang terjadi akibat kontraksi otot
tersebut akan berjalan lambat dan tidak maksimal.
1.2
Rumusan Masalah
1.2.1
Bagaimanakah Pengertian dari Sistem Otot
?
1.2.2
Bagaimanakah Macam-Macam Bentuk Pada
Otot ?
1.2.3
Bagaimanakan Jenis Jenis Otot ?
1.2.4
Bagaimanakah Mekanisme Kerja Otot ?
1.2.5
Bagaimanakah Sifat Kerja Otot ?
1.2.6
Bagaimanakah Kelainan kelainan pada Otot
1.3 Tujuan
1.3.1
Dapat Mengetahui Dan Memahami Bagaimana
Pengertian Pada Sistem Otot
1.3.2
Dapat Mengetahui Dan Memahami Bagaimana
Macam Macam Bentuk Otot
1.3.3
Dapat Mengetahui Dan Memahami Bagaimana
Jenis Jenis Pada Otot
1.3.4
Dapat Mengetahui Dan Memahami Bagaimana
Mekanisme Kerja Pada Otot
1.3.5
Dapat Mengetahui Dan Memahami Bagaimana
Sifat Kerja Pada Otot
1.3.6
Dapat Mengetahui Dan Memahami Bagaimana
Kelainan Kelainan Pada Otot
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Otot

Otot merupakan suatu organ atau alat yang memungkinkan
tubuh dapat bergerak adalah suatu sifat
penting bagi organisme. Gerak sel terjadi karena sitoplasma merubah bentuk.
Pada sel-sel, sitoplasma ini merupakan benang-benang halus yang panjang disebut
miofibril. Kalau sel otot mendapat rangsangan maka miofibril akan memendek,
dengan kata lain sel otot akan memendekkan dirinya ke arah tertentu
(berkontraksi) (Kartolo S. Wulangi: 2000)
Sistem Muskular ini merupakan sistem jaringan yang
disebut otot pada tubuh manusia yang memungkinkan kita untuk dapat bergerak.
Sebagian besar otot pada tubuh berada di bawah kendali sadar dan digerakkan
oleh perintah otak melalui suatu sistem saraf. Setiap
orang memiliki lebih dari enam ratus otot, yang dilayani oleh saraf yang
menghubungkan setiap otot dengan otak dan tulang belakang.
Otot ini terbentuk dari jutaan filamen protein kecil yang
bekerja bersama untuk menghasilkan gerak pada tubuh. otot
dapat bergerak dan membuat kita
mampu melakukan berbagai tindakan hanya dengan meregangkan dan mengerutkan.
Otot mampu menarik, tetapi tidak bisa mendorong.
Namun, beberapa otot (seperti otot jantung) yang tak
sadar – bergerak secara teratur tanpa kendali kesadaran. Kecuali untuk otot tak
sadar, serat-serat otot terhubung ke sistem kerangka oleh tendon dan jaringan
lainnya.
Pada sistem otot
terdapat 3 tipe jaringan otot yaitu otot rangka/skeletal, otot lurik/viseral
dan otot jantung/kardiak.
Fungsi utama otot antara lain adalah (Vander: 1986) :
1. Body movement
(pergerakan tubuh). Otot skeletal melekat pada tulang memiliki peran dalam
pergerakan anggota tubuh dan dikontrol secara sadar (volunter). Contohnya
pergerakan tangan, memegang suatu objek, berlari. Dsb.
2. Maintenance
of posture (menjaga bentuk tubuh). Otot skeletal secara konstan menjaga tonus
otot agar tetap tegang.
3. Respiration
(respirasi). Otot dari torak bertanggung jawab pada pergerakan tulang rusuk
saat terjadi proses pernapasan.
4. Production of
body heat (menghasilkan panas tubuh). Ketika otot rangka berkontraksi akan
dihasilkan panas sebagai produk kejadian tersebut dengan tujuan menjaga
temperatur tubuh tetap konstan.
5. Communication
(komunikasi).
6. Constriction
of organs and vessels (konstriksi dari organ dan pembuluh darah). Kontraksi
dari otot polos dalam dinding organ dari organ viseral dan pembuluh darah
menyebabkan konstriksi dari organ tersebut. Konstriksi membantu
pencampuran/pengadukan makanan di tractus digestivus, pengeluaran sekret dari
organ dan regulasi aliran darah melalui pembuluh darah.
7. Heart beat
(irama pompa jantung). Kontraksi otot jantung menyebabkan jantung secara ritmik
memompa darah ke seluruh bagian tubuh
Otot memiliki 5 sifat, yaitu ( Vander: 1986 ) :
1) Otot memiliki kemampuan berkontraksi dan
berelaksasi
Kontraksi otot
terjadi apabila otot menerima rangsangan. Kontraksi otot dikenal dengan
penegangan otot. Dikenal dua macam kontraksi otot yaitu Isotonik dan
Isometrik.Kontraksi isotonik adalah penegangan otot yang mengakibatkan otot
mengalami pemendekan. Contohnya adalah orang yang mengangkat beban tidak
terlalu berat sehingga beban terangkat. Kontraksi isometrik adalah timbulnya
penegangan otot tanpa mengalami pemendekan.
2) Elastisitas dan kekenyalan
Setelah
mengalami pengembangan atau perpanjangan, otot mampu kembali pada bentuk dan
ukuran semula. Contohnya, rahim yang berisi janin menjadi mengembang dan jika
janin telah keluar, rahim dapat kembali seperti ukuran semula.
3) Kepekaan terhadap rangsangan atau
iritabilitas
Otot mampu
mengadakan tanggapan atau respon apabila otot dirangsang. Ada 4 macam bentuk
rangsangan yaitu : Mekanik (pijitan, pukulan), Kimia (larutan asam dan larutan
garam), panas dan listrik (arus listrik yang diberikan terhadap otot atau
saraf). Diantara keempat itu yang sering digunakan adalah rangsangan listrik.
Bila otot jantung dirangsang, seluruh ototnya akan berkontraksi secara
maksimal. Hal ini menggambarkan azas “semua atau tidak” atau dengan kata lain
setiap kontraksi mencapai maksimal bila diberi rangsang. Azas ini juga berlaku
untuk serabut otot.
4) Sifat otot dapat mengalami kecapaian atau
fatigueYaitu suatu keadaan yang ditandai oleh menurunnya kepekaan dan kemampuan
menegang apabila otot dirangsang secara terus menerus dengan intensitas
rangsang yang sama besar dengan frekuensi 1 rangsang perdetik maka pada suatu
saat otot mengalami kehilangan kemampuan untuk kontraksi. Faktor lain yang dapat
menimbulkan kecapaian adalah aktivitas yang berlebihan, kurng gizi, gangguan
pada sisstem peredaran darah, pernafasan, endrokrin, dan sikap tubuh yang tidak
betul.
5) Otot dapat membesar (Hipertrofi)
Bila otot
melakukan kerjaberat secara terus menerus, otot akan membesar yang disebut
dengan hipertrofi. Otot yang mengalami hipertrofi diamater serabut ototnya
meningkat dan jumlah zat didalam otot jugs bertambah. Sebaliknya, otot yang
tidak digunakan menjadi kecil ( Atropi).
2.2 Macam Macam
Otot
Terminologi (bahasa Latin: terminus) atau peristilahan
adalah ilmu tentang istilah dan penggunaannya.
Menurut letaknya otot tubuh dibagi dalam beberapa
golongan sebagai berikut (Datu: 2004):
1. Otot
bagian kepala
2. Otot
bagian leher
3. Otot bagian
perut
4. Otot
bagian anggota gerak atas
5. Otot
bagian anggota gerak bawah
1. Otot
Bagian kepala

Otot bagian kepala dibagi menjadi 5 bagian, yaitu:
1. Otot
pundak kepala, yang dibagi lagi menjadi 2 bagian yaitu:
a. Muskulus
frontalis, yang berfungsi mengerutkan dahidan menarik dahi mata
b.
Oksipitalis, terletak dibagian belakang yang berfungsi menarik kulit
kebelakang
2. Otot
wajah , yang dibagi menjadi sub-sub sebagai berikut:
a. Otot
mata dan otot bola mata sebanyak 4 buah
b. Muskulus
obliges okuli/ otot bola mata yang terdapat disekeliling mata yang berfungsi
memutar mata
c.
Muskulus orbicularis okuli/ otot lingkar mata yang terdapat di
sekeliling mata, yang berfungsi sebagai penutup mata.
d. Muskulus
levator palpebra superior, terdapat pada kelopak mata yang fungsinya menarik,
mengangkat kelopak mata keatas pada waktu membuka mata.
3. Otot
mulut/ bibir dan pipi, yang terbagi atas:
a.
Muskulus triangularis dan muskulus orbikularis oris/ otot sudut mulut,
yang berfungsi menarik sudut mulut kebawah.
b. Muskulus
quadratus labii superior/ otot bibir atas yang mempunyai origo pinggir lekuk
mata menuju bibir atas dan hidung.
c.
Muskulus quadratus labii inferior, terdapat pada dagu yang merupakan
kelanjutan pada otot leher. Fungsinya adalah menarik bibir kebawah atau
membentuk mimik muka kebawah
d.
Muskulus buksinator, yang memebentuk dinding sampai rongga mulut,
fungsinya menahan makanan waktu mengunyah.
e. Muskulus
zigomatikus/ otot pipi, yang berfungsi untuk mengangkatdagu mulut keatas waktu
senyum.
4. Otot
pengunyah, yang terbagia atas:
a.
Muskulus maseter, yang berfungsi mengngkat rahang bawah pada waktu mulut
terbuka
b. Muskulus
temporalis, yang berfungsi menarik rahang bawah ketas dan kebelakang
c.
Muskulus pterogoid internus dan eksternus, yang berfungsi menarik rahang
bawah kedepan.
5. Otot
lidah, yang terbagi atas:
a.
Muskulus genioglosus, yang berfungsi mendorong lidah kedepan
b. Muskulus
stiloglosus, yang berfungsi menarik lidah keatas dan kebelakang
2. Otot
bagian leher

Otot bagian leher dibagi menjadi 3 bagian, yaitu:
1. Muskulus
platisma, trdapat di samping leher menutupi sampai bagian dada. Fungsinya
menekan mandibular, menarik bibir ke bawah dan mengerutkan kulit bibir.
2. Muskulus
sternokleido mastoid, terdapat di samping kiri dan kanan leher yang berfungsi
menarik kepala kesamping kiri, kanan, dan memutar kepala.
3. Muskulus
longisimus kapitis, terdiri dari splenius dan semispinalis kapitis, ketiganya
terdapat dibelakang leher dengan fungsi untuk menarik kepala belakang dan
menggelengkan kepala.
3. Otot
bagian perut

Otot ini terdiri atas:
1. Muskulus
abdominalis internal (dinding perut)
2. Linea
alba, yaitu garis tengah dinding perut
3. Muskulus
abdominalis eksternal
4. Muskulus
obliqus eksternus abdominis
5. Muskulus
obliqus internus abdominis
6. Muskulus
tranversus abdominis
4. Otot tungkai
atas

Otot tungkai atas mempunyai selaput pembungkus yang
sangat kuat dan disebut fasia lata yang dibagi menjadi 3 golongan, yaitu:
1. Otot
abductor, yang terdiri dari:
a.
Muskulus abduktor maldanus sebelah dalam
b. Muskulus
abduktor brevis sebelah tengah
c.
Muskulus abductor longis sebelah luar
Ketiga otot ini menjadi satu yang disebut muskulus
abduktor femoralis. Fungsinya menyelenggarakan abduksidari femur.
2. Muskulus
eksentor ( qudriseps femoris)
Atau otot berkepala empat, yang terdiri dari:
a.
Muskulus rektus femoralis
b. Muskulus
vastus lateralis eksternal
c.
Muskulus vastus medialis internal
d. Muskulus
vastus intermedial
e. Otot
fleksor femoris, yang terdapat dibagian belakang paha yang terdiri dari :
5. Otot
tungkai bawah

Terdiri dari:
1. Otot
tulang kering depan muskulus tibialis anterior, fungsinya mengangkat pinggir
kaki sebelah tengah dan membengkokan kaki
2. Muskulus
eksensor talangos longus, yang fungsinya malurus kan jari telunjuk ketengahan
jari, jari manisdan kelingking kaki
3. Otot
jempol, fungsinya dapat meluruskan ibu jari kaki
4. Urat
arkiles (tendo arkhiles) yang fungsinya meluruskan kaki di sendi tumit dan
membengkokan tungkai bawah lutut.
5. Otottulang betis belakang ( muskulus
tibialis posterior), fungsinya dapat
membengkokan kaki di sendi tumit dan telapak kaki sebelah kedalam
6. Otot
kedang jari bersama, fungsinya dapat meluruskan jari kaki ( muskulus ekstensor
falangus). (Setiadi.2007)
Bagian-bagian otot pembentuk tubuh manusia, antara
lain:
a.
Sarkolema
Sarkolema adalah membran yang melapisi suatu sel otot
yang fungsinya sebagai pelindung otot.
b.
Sarkoplasma
Sarkoplasma adalah cairan sel otot yang fungsinya
untuk tempat dimana miofibril dan miofilamen berada.
c.
Miofibril
Miofibril merupakan serat-serat pada otot.
d.
Miofilamen
Miofilamen adalah benang-benang atau filamen halus
yang berasal dari miofibril. Miofibril terbagi atas 2 macam, yakni :
1. Miofilamen
homogen (terdapat pada otot polos).
2. Miofilamen
heterogen (terdapat pada otot jantung/otot cardiak dan pada otot rangka/otot lurik).
Di dalam miofilamen terdapat protein kontaraktil yang
disebut aktomiosin (aktin dan miosin), tropopin dan tropomiosin. Ketika otot
kita berkontraksi (memendek) maka protein aktin yang sedang bekerja dan jika
otot kita melakukan relaksasi (memanjang) maka miosin yang sedang bekerja.
2.3 Jenis jenis
sistem otot

Terdapat 3 jenis otot yang ditemukan pada vertebrata,
yaitu otot rangka, otot jantung dan otot polos. Bila diteliti di bawah
mikroskop, pada otot jantung dan otot rangka terlihat adanya garis-garis dan
disebut otot lurik, sedang otot polos tidak ditemukan adanya garis-garis atau
pun garisnya sangat halus, oleh karena itu disebut otot polos (Irianto Kus:
2004).
a. Otot Polos

Otot polos adalah salah satu otot yang mempunyai
bentuk yang polos dan bergelondong. Cara kerjanya tidak disadari, memiliki satu
nukleus yang terletak di tengah sel. Otot ini biasanya terdapat pada saluran
pencernaan seperti lambung dan usus. Jaringan otot polos mempunyai
serabut-serabut yang homogen sehingga bila diamati di bawah mikroskop tampak
polos atau tidak bergaris-garis. Otot polos berkontraksi secara refleks dan di bawah
pengaruh saraf otonom. Bila otot polos dirangsang, reaksinya lambat. Otot polos
terdapat pada saluran pencernaan, dinding pembuluh darah, saluran pernafasan
( Setiadi: 20017 ).
Ciri otot polos, yaitu:
a) Selnya
berbentuk gelondong
b) Gerakan ototnya
lambat dan tidak cepat lelah.
c)
Bekerja diluar kesadaran
Sel otot polos bila dilihat di bawah mikroskop cahaya
tidak menunjukan adanya garis-garis melintang. Otot polos vertebrata dapat
dijumpai pada dinding organ-organ dalam dan pembuluh darah: saluran pencernaan,
uterus, kendung kencing, ureter, arteri dan arteriole. Juga terdapat pada iris
mata dan otot penggerak rambut. Struktur internal sel-sel otot polos nampak
kurang terorganisasi secara baik dibandingkan dengan otot rangka dan otot jantung.
Susunan filament tebal dan filament tipis dalam otot polos nampak hampir acak,
organisasi sarkomerik dan pita Z nya tidak ada. Proporsi dan organisaasi
filament tebal dan filament tipisnya berbeda, tidak tersusun sejajar tapi
saling menyilang membentuk kisi-kisi. Rasio filament tebal dan tipis pada otot
polos sebesar 1;16 (pada otot rangka 1: 2)
.
Berdasarkan pada perbedaan dalam bagaimana serabut
otot menjadi aktif , otot polos dikelompokkan menjadi 2 macam, yaitu otot polos unit jamak ( multi
unit ) dan otot polos unit tunggal ( single unit). Otot polos unit jamak
menunjukkan sifat-sifat antara otot rangka dan otot polos unit tunggal. Seperti
nampak pada namanya, suatuotot polos unit jamak terdiri atas benyak unit-unit
yang fungsinya secara bebas terpisah satu dengan yang lain, yang di stimulus
secara terpisah oleh saraf untuk berkontraksi ( mirip dengan unit-unti motor
pada otot rangka) jadi otot rangka dan otot polos unit jamak keduanya
neurogenik, yaitu kontraksinya tergantung pada adanya impuls dari saraf. Namun
berbeda dengan otot rangka, depolarisasi yang terjadi pada otot polos dalam
merespon stimulasi saraf otonomik untuk menuju ke respon kontraktil adalah
depolarisasi bertingkat ( pada otot rangka adalah potensial aksi). Kekuatan
kontraktilnya tidak hanya tergantung pada jumlah unit-unit yang distimulasi dan
kecepatan stimulasinya, tetapi juga pada pengaruh hormone-hormon dan
obat-obatan yang sedang bersirkulasi. Otot polos unit jamak terdapat pada (1)
dinding pembuluh darah besar ,(2) saluran udara besar ke paru-paru, (3)
otot-otot mata yang mengatur lensa untuk melihat dekat atau jauh, (4) otot iris
mata, dan (5) otot pada dasar folikel
rambut.
(Syaifuddin: 1997)
Otot polos unit tunggal disebut juga ‘’otot polos
viseral’’ sebab di jumpai pada dinding organ-organ berongga atau visera (
misalnya saluran pancernaan, alat reproduksi, saluran kencing dan pembuluh
darah kecil). Istilah otot polos unit tunggal diambil dari fakta bahwa
serabut-serabut otot polos yang menyusun otot ini menjadi aktif dan
berkontraksi secara serempak sebagai suatu unit tunggal. Sel-sel otot polos
unit tunggal secara kelistrikan
dihubungkan bersama oleh persambungan renggang ( gap junction). Bila
suatu potensial aksi terjadi pada suatu daerah pada pembungkus otot polos unit
tunggal, maka potensial aksi ini dengan cepat di sebarkan melalui titik-titik
khusus pada kontak kelistrikan ini ke
seluruh kelompok sel yang bersambunganseperti ini, yang fungsinya secara
kelistrikan dan mekanik sebagi suatu
unit, dikenal sebagai suatu sinsitsium fungsional.
( Bufirman: 2007)
Untuk berkontraksi, otot polos unit tunggal dapat
mengaktifkan diri sendiri (
self-excitable) tanpa memerlukan stimulus melalui saraf. Ternyata dalam otot
polos unit tunggal ini ada kelompok-kelompok sel otot polos khusus yang mampu
menghasilkan potensial aksi tanpa stimulasi eksternal sama sekali. Berbeda
dengan sel-sel otot polos unit jamak, sel otot polos unit tunggal ini tidak
menjaga potensial istirahat yang konstan, namun potensial membrannya berfluktuasi
terus tanpa pengaruh eksternal sama sekali. Setiap serabut otot polos adalah
sel tunggal berbentuk gelendong dengan satu nukleus, sel-sel itu tersusun dalam
lembaran. Otot polos juga disebut otot tak berlurik karena tidak tampak adanya
lurik melintang di bawah mikroskop cahaya. Otot polos dapat berkontraksi secara
spontan, tetapi terutama dikendalikan oleh neuron motor dari sistem syaraf
simpatik dan parasimpatik. Kerja otot polos jauh lebih lambat daripada kerja
otot kerangka. Otot polos memerlukan waktu antara tiga detik sampai tiga menit
untuk berkontraksi. Otot polos berbeda dengan otot kerangka dalam kemampuannya
untuk tetap berkontraksi pada berbagai panjang. Keadaan ini disebut dengan
tonus. Tonus (otot) adalah kontraksi otot yang selalu dipertahankan
keberadaannya oleh otot itu sendiri. Otot polos bekerja di luar kesadaran. ( Setiadi : 2007)
Kontraksi otot polos dapat melaksanakan bermacam-macam
tugas, seperti meneruskan makanan dari mulut ke saluran pencernaan dan
mengeluarkan urine. Otot polos terdapat
pada sistem pernapasan, sistem reproduksi, arteri, vena, pembuluh limfe yang
besar, dermis, iris, dan korpus siliaris pada mata. Otot polos bertanggung
jawab atas aktivitas tubuh tidak sadar, seperti gerakan lambung atau
penyempitan arteri.
·
Cara
kerja otot polos
Bila otot polos berkontraksi, maka bagian tengahnya
membesar dan otot menjadi pendek . kerutan itu terjadi lambat . bila otot itu
mendpat suatu ransang, maka reaksi tehadap
berasal dari susunan sara tak sadar(otot involunter), oleh karena itu
otot polos tidak berada di bawah kehendak. Jadi, bekerja di luar kesadaran kita
( Setiadi: 2007 )
Ada dua kategori otot polos berdasarkan cara serabut
otot distimulasi untuk berkontraksi.
·
Otot
polos unit ganda ditemukan pada dinding pembuluh darah besar, pada jalan udara
besar traktus respiratorik, pada otot mata yang memfokuskan lensa dan
menyesuaikan ukuran pupil dan pada otot erektor pili rambut.
·
Otot
polos unit tunggal (viseral) ditemukan tersusun dalam lapisan dinding organ
berongga atau visera. Semua serabut dalam lapisan mampu berkontraksi sebagai
satu unit tunggal. Otot ini dapat bereksitasi sendiri atau miogenik dan tidak
memerlukan stimulasi saraf eksternal untuk hasil dari aktivitas listrik spontan
b. Otot
Lurik atau Otot Rangka

Otot rangka atau otot lurik merupakan jenis
otot yang melekat pada seluruh rangka, cara kerjanya disadari (sesuai
kehendak), bentuknya memanjang dengan banyak lurik-lurik, memiliki nukleus
banyak yang terletak di tepi sel. Nama lainnya adalah jaringan otot kerangka
karena sebagian besar jenis otot ini melekat pada kerangka. Kontraksinya
menurut kehendak kita dan di bawah pengaruh saraf sadar. Dinamakan otot luri.
karena bila dilihat di bawah mikroskop tampak adanya garis gelap dan terang
berselang-seling melintang di sepanjang serabut otot. Oleh sebab itu nama lain
dari otot lurik adalah otot bergaris melintang. Contoh otot pada lengan.
Kontraksi otot lurik berlangsung cepat bila menerima rangsangan, berkontraksi
sesuai dengan kehendak dan di bawah pengaruh saraf sadar. Fungsi otot lurik
untuk menggerakkan tulang dan melindungi kerangka dari benturan keras.
Garis-garis pada otot lurik disebabkan oleh struktur miofibril-miofibril yang
saling berkaitan.( Santosa: 2006 )
Ciri otot lurik, yaitu:
a) Selnya
berbentuk silindris dengan garis gelap terang,
b) Bekerja
secara sadar
c)
gerakannya cepat dan mudah lelah serta melekat pada rangka.
Unit struktural jaringan otot ialah serat otot. Serat
otot rangka berdiameter 0,01-0,1 mm dgn panjang 1-40 mm. Besar dan jumlah
jaringan, terutama jaringan elastik, akan meningkat sejalan dengan penambahan
usia. Setiap 1 serat otot dilapisi oleh jaringan elastic tipis yg disebut
sarcolemma. Protoplasma serat otot uang berisi materi semicair disebut
sarkoplasma. Sarkolema yang dibungkus oleh endomesium yaitu jaringan ikat yang
banyak mengandung serabut kolagen, reticulum dan elastin. Beberapa serabut
tunggal akan bergabung menjadi satu berkas yang disebut fasikulus. Fasikulus
dibungkus oleh jaringan ikat yang disebut perimesium. Seluruh fasikulus
dibungkus secara bersama –sama oleh epimesium menjadi sebuah berkas yang biasa
kita sebut sebagai otot.
Endomesium, perimesium dan epimesium bergabung bersama
membentuk tendon atau urat untuk melekatkan otot pada tulang atau jaringan yang
lain. Otot rangka diinervasi oleh system saraf somatic.Bila kita memisahkan
satu sel otot dari fasikulusnya maka dapat dilihat bahwa di dalam sel otot
tersebut terdapat beratus-ratus serabut
halus yang tersusun sejajar dan homogen, yang dikenal dengan nama myofibril.
Bila diamati lebih lanjut akan nampak
bahwa di dalam setiap myofibril terdapat miofilamen tebal dan miofilamen tipis
yang tersusun sejajar namun tidak homogen,
sehingga memberikan gambaran pita gelap-terang myofibril.(Santosa:
2006 )
Pita gelap disebut sebagai pita A ( A=Anisotropik ),
merupakan bagian yang ditempati filament tebal dan tipis. Ditengah-tengah pita
A terdapat daerah yang agak terang, disebut sebagai zona H (H= Heller yang
berarti cahaya). Pita H merupakan bagian dari myofibril yang dibangun oleh
miofilamen tebal. Pita yang terang disebut pita I ( Isotropik ), yang
ditengahnya terdapat garis berbentuk gambaran garis Z (Z= Zwischensheibe,yang
berarti cakram antara). Pita I merupakan bagian pada myofibril yang dibatasi oleh
garis Z disebut sarkomer,yang panjangnya sekitar 2 um. Jadi setiap sarkomer
terdiri atas pita A yang kedua ujungnya diapit oleh pita I. dengan adanya pita
A dan I yang tersusun berselang seling ini maka otot rangka tampaka
bergaris-garis melintang sehingga disebut sebagai otot lurik. Sarkomer
disebut juga sebagi unit fungsional atau
unit kontraksi otot, sebab peristiwa kontraksi otot terjadi pada setiap
sarkomer.
·
Cara
kerja otot lurik
Bila otot lurik berkotraksi, maka menjadi pendek dan
setiap serabut turut dengan berkontraksi. Otot-otot jenis ini hanya
berkontraksi jika di rangsang oleh rangsang saraf sadar(otot olunteer).kerja otot lurik adalah bersifat
sadar, karena itu di sebut otot sadar,artinya bekerjaya menurut kemauanadar,
karena itu di sebut otot sadar,artinya bekerjaya menurut kemauan atau perintah
otak. Reaksi kerja otot lurik terhadap perangsang cepat,tapi tidak tahan
kelelahan.
c.
Jaringan Otot Jantung

Otot jantung berbentuk silindris atau serabut pendek.
Otot ini tersusun atas serabut lurik yang bercabang-cabang dan saling
berhubungan satu dengan lainnya. Setiap sel otot jantung mempunyai satu atau
dua inti yang terletak di tengah sarkoplasma. Otot jantung bekerja di luar
kehendak (otot tidak sadar) atau disebut juga otot involunter dan selnya
dilengkapi serabut saraf dari saraf otonom. Kontraksi otot jantung berlangsung
secara otomatis, teratur, tidak pernah lelah, dan bereaksi lambat. Dinamakan
otot jantung karena hanya terdapat di jantung. Kontraksi dan relaksasi otot jantung
menyebabkan jantung menguncup dan mengembang untuk mengedarkan darah ke seluruh
tubuh. Ciri khas otot jantung adalah mempunyai diskus interkalaris, yaitu
pertemuan dua sel yang tampak gelap jika dilihat dengan mikroskop.
·
Cara
kerja otot jantung
Gerak otot jantung dikendalikan oleh saraf tak sadar
(otonom). Kontraksi dan relaksasi otot jantung menyebabkan serambi dan bilik
jantung menyempit dan melebar secara berirama yang menimbulkan denyut jantung.
Dengan adanya kontraksi dan relaksasi, darah dipompa ke dalam pembuluh-pembuluh
darah dan dialirkan ke seluruh tubuh. Dalam keadaan normal jantung akan
berkontraksi sekitar 72 kali setiap menit.
(
Syaifuddin: 1997)
2.4 Kontraksi dan Relaksasi Otot

Kontraksi otot adalah proses terjadinya pengikatan
aktin dan miosin sehingga otot memendek. Aktin merupakan bentuk jaring otot
yang berfungsi untuk membentuk permukaan sel, pigmen penyusun otot yang
berdinding tipis, protein yang merupakan unsur kontraksi dalam otot, sedangkan
miosin adalah protein dalam otot yang mengatur kontraksi dan relaksasi filamen
penyusun otot yang berdinding tebal. Otot memiliki beberapa karakteristik,
yaitu
(Datu: 2004):
a.
Kontraktibilitas, yaitu kemampuan untuk memendek;
b.
Ekstensibilitas, yaitu kemampuan untuk memanjang;
c.
Elastisitas, yaitu kemampuan untuk kembali ke ukuran semula setelah
memendek atau memanjang.
Metode pergeseran filamen dijelaskan melalui mekanisme
kontraksi pencampuran aktin dan miosin membentuk kompleks akto-miosin yang
dipengaruhi oleh ATP.. Tahap selanjutnya, tahap relaksasi konformasional
kompleks aktin, miosin, danADP-Pi secara bertahap melepaskan ikata
n dengan Pi dan ADP, proses terkait dan terlepasnya
aktin menghasilkan gaya fektorial. (Vander: 1986)
Mekanisme kontraksi otot, dimulai dengan pembentukan
kolin menjadi asetilkolin yang terjadi di dalam otot. Proses itu akan diikuti
dengan penggabungan antara ion kalsium, troponium, dan tropomisin. Penggabungan
ini memacu penggabungan miosin dan aktin menjadi akto-miosin.
Terbentuknyaakto-miosin menyebabkan sel otot memendek (berkontraksi) pada
plasma sel, ion kalsium akan berpisah dari troponium sehingga aktin dan miosin
juga terpisah dan otot akan kembali relaksasi. Saat kontraksi, filamen aktin
akan meluncur atau mengerut diantara miosin ke dalam zona H (Zona H adalah
bagian terang antara 2 pita), dengan demikian serabut otot memendek atau yang
tetap panjang adalah pita A (pita Gelap), sedangkan pita I (pita terang) dan
zona H bertambah pendek pada saat kontraksi. ( Irianto : 2004)
Ujung miosin dapat mengikat ATP dan menghidrolisis
menjadi ADP. Beberapa energi dilepaskan dengan cara memotong pemindahan ATP ke
miosin yang berubah ke konfigurasi energi tinggi. Miosin yang berenergi tinggi
ini kemudian mengikatkan diri dengan kedudukan khusus pada aktin membentuk
jembatan silang, kemudian simpanan energi miosin dilepaskan dan ujung miosin
lalu beristirahat dengan energi rendah pada saat ini terjadi relaksasi.
Mekanisme otot ketika berelaksasi, relaksasi terjadi jika ion-ion Ca++ dipompa
lagi masuk ke dalam retikulum sarkoplasma secara transport aktif dengan bantuan
ATP, sehingga binding site aktin kembali tertutupi oleh tropomiosin, cross
bridge tidak dapat terjadi dan relaksasi terjadi.
Mekanisme Kontraksi Otot
Dasar untuk mengetahui kontraksi otot adalah Model
Pergeseran Filamen yang pertama kali dikemukakan tahun 1954 oleh Andrew Huxley
dan Ralph Niederge dan oleh Hugh Huxley dan Jean Hanson. Selama kontraksi otot,
setiap sarkomer memendek, menyebabkan garis Z menutup bersama. Tidak ada perubahan
pada ukuran daerah A tetapi daerah I dan zona H hampir tidak terlihat.
Perubahan ini diterangkan oleh filamen aktin dan myosin yang bergeser melewati
satu sama lain, sehingga filamen aktin berpindah menuju daerah A dan zona H.
Kontraksi otot dengan demikian akibat dari interaksi diantara filamen aktin dan
myosin yang menghasilkan pergerakan yang relatif satu sama lain. Dasar
molekuler untuk interaksi ini adalah ikatan myosin ke filamen aktin menyebabkan
myosin berfungsi sebagai penggerak pergeseran filamen.
( Santosa : 2006)
Tipe myosin yang terdapat pada otot (myosin II) adalah
jenis protein yang besar (sekitar 500 kd) yang terdiri dari dua rantai berat
yang identik dan dua pasang rantai ringan. Setiap ikatan gelap terdiri atas
gugus kepala globuler dan ujung α-heliks
yang panjang. Ujung α-heliks dari dua rantai berat yang kembar di sekitar satu
sama lain di dalam struktur gulungan untuk membentuk dimer dan dua rantai
ringan yang terhubung dengan bagian leher tiap gugus kepala untuk membentuk
molekul myosin yang komplet.
Filamen tebal otot terdiri dari beberapa ribu molekul
myosin yang berhubungan dalam pergiliran pararel disusun oleh interaksi
diantara ujung-ujungnya. Kepala globuler myosin mengikat aktin membentuk
jembatan diantara filamen tebal dan tipis. Ini penting dicatat bahwa orientasi
molekul myosin pada filamen tipis berkebalikan pada garis M sarkomer. Polaritas
filamen aktin sama berkebalikan pada garis M sehingga orientasi filamen aktin
dan myosin adalah sama pada kedua bagian sarkomer. Aktivitas penggerak myosin
memindahkan gugus kepalanya sepanjang filamen aktin pada arah ujung positif.
Pergerakan ini mengegeser filamen aktin dari kedua sisi sarkomer terhadap garis
M, memendekkan sarkomer dan menyebabkan kontraksi otot. Penambahan ikatan aktin,
kepala myosin mengikat dan kemudian menghidrolisis ATP yang menyediakan energi
untuk menggerakkan pergeseran filamen. Pengubahan energi kimia untuk pegerakan
ditengahi oleh perubahan bentuk myosin akibat pengikatan ATP. Model ini secara
luas diterima bahwa hidrolisis ATP mengakibatkan siklus yang berulang pada
interaksi diantara kepala myosin dan aktin. Selama tiap siklus, perubahan
bentuk pada myosin mengakibtkan pergerakan kepala myosin sepanjang filamen
aktin. ( Santosa : 2006)
Walaupun mekanisme molekuler masih belum sepenuhnya
diketahui, model yang diterima secara luas untuk menjelaskan fungsi myosin
diturunkan dari penelitian in vitro tentang pergerakan myosin di sepanjang
filamen aktin (oleh James Spudich dan Michael Sheetz) dan dari determinasi
struktur 3 dimensi myosin (oleh Ivan Rayment dan koleganya). Siklus dimulai
dari myosin (tanpa adanya ATP) yang berikatan dengan aktin. Pengikatan ATP
memisahkan kompleks myosin-aktin dan hidrolisis ATP kemudian menyebabkan
perubahan bentuk di myosin. Perubahan ini mempengaruhi daerah leher myosin yang
terikat pada ikatan terang yang bertindak sebagai lengan pengungkit untuk
memindahkan kepala myosin sekitar 5 nm. Produk hidrolisis meninggalkan ikatan
pada kepala myosin yang disebut “posisi teracung”. Kepala myosin kemudian
mengikat kembali filamen aktin pada posisi baru, menyebabakan pelepasan ADP +
Pi yang menggerakkannya. ( Santosa : 2006 )
Kejadian biokimiawi yang penting dalam mekanisme
kontraksi dan relaksasi otot dapat digambarkan dalam 5 tahap yakni sebagai
berikut (
Irianto: 2006 ):
a. Dalam fase relaksasi pada kontraksi otot, kepala S1
myosin menghidrolisis ATP menjadi ADP dan Pi, namun kedua produk ini tetap
terikat. Kompleks ADP-Pi- myosin telah mendapatkan energi dan berada dalam bentuk
yang dikatakan sebagai bentuk energi tinggi.
b. Kalau kontraksi otot distimulasi maka aktin akan dapat
terjangkau dan kepala myosin akan menemukannya, mengikatnya serta membentuk
kompleks aktin-myosin-ADP-Pi.
c. Pembentukan kompleks ini meningkatkan Pi yang akan
memulai cetusan kekuatan. Peristiwa ini diikuti oleh pelepasan ADP dan disertai
dengan perubahan bentuk yang besar pada kepala myosin dalam sekitar hubungannya
dengan bagian ekornya yang akan menarik aktin sekitar 10 nm ke arah bagian
pusat sarkomer. Kejadian ini disebut cetusan kekuatan (power stroke). Myosin
kini berada dalam keadaan berenergi rendah yang ditunjukkan dengan kompleks
aktin-myosin.
d. Molekul ATP yang lain terikat pada kepala S1 dengan
membentuk kompleks aktin-myosin-ATP.
e. Kompleks aktin-ATP mempunyai afinitas yang rendah
terhadap aktin dan dengan demikian aktin akan dilepaskan. Tahap terakhir ini
merupakan kunci dalam relaksasi dan bergantung pada pengikatan ATP dengan
kompleks aktin-myosin.
Membran SR yang secara normal non-permeabel terhadap Ca2+
itu mengandung sebuah transmembran Ca2+-ATPase yang memompa Ca2+ kedalam SR
untuk mempertahankan konsentrasi [Ca2+] bagi otot rileks. Kemampuan SR untuk
dapat menyimpan Ca2+ ditingkatkan lagi oleh adanya protein yang bersifat amat
asam yaitu kalsequestrin (memiliki situs lebih dari 40 untuk berikatan dengan
Ca2+). Kedatangan impuls saraf membuat SR menjadi permeabel terhadap
Ca2+.Akibatnya, Ca2+ berdifusi melalui saluran-saluran Ca2+ khusus menuju
interior miofibril, dan konsentrasi internal [Ca2+] akan bertambah. Peningkatan
konsentrasi Ca2+ ini cukup untuk memicu perubahan konformasional dalam troponin
dan tropomiosin. Akhirnya, kontraksi otot terjadi dengan mekanisme “perahu
dayung” tadi. Saat rangsangan saraf berakhir, membran SR kembali menjadi
impermeabel terhadap Ca2+ sehingga Ca2+ dalam miofibril akan terpompa keluar
menuju SR. Kemudian otot menjadi rileks seperti sediakala.
( Bafirman : 2007 )
Mekanisme kerja otot pada dasarnya melibatkan suatu
perubahan dalam keadaan yang relatif dari filamen-filamen aktin dan myosin.
Selama kontraksi otot, filamen-filamen tipis aktin terikat pada dua garis yang
bergerak ke Pita A, meskipun filamen tersebut tidak bertambah banyak.Namun,
gerakan pergeseran itu mengakibatkan perubahan dalam penampilan sarkomer, yaitu
penghapusan sebagian atau seluruhnya garis H.
Energi untuk
Kontraksi Otot
Kontraksi otot
memerlukan energi. Energi yang digunakan disuplai dalam bentuk energi kimia.
Energi ini diambil dari molekul ATP (adenosin trifosfat) dan kreatin fosfat
(CP) yang berenergi tinggi. Energi ini menggerakkan filamen penghubung antara
aktin dan miosin. Kreatin fosfat menyumbangkan fosfor pada ADP
selama oto berkontraksi. ATP yang dihidrolisis akan terurai menjadi ADP
, ADP ini pun juga akan terurai menjadi AMP (adenosin monofosfat). (Bafirman :
2007 )
ATP ADP + P + E
ADP AMP
+ P + E
Jika
perbandingan energi habis, maka otot tidak akan berkontraksi lagi. Untuk gerak
berikutnya, perlu segera di bentuk energi yang bersal dari pemecahan molekul
glukosa. Fase ini disebut fase aerob.
· Secara aerob
Glukosa (C6H12O6) + O2 6H2O + 6CO2 + 38 ATP.
Di dalam
otottersimpan gulaotot, yaitu glikogen. Glikogen merupakan bentuk glukosa
cadangan di dalam otot. Seperti halnya glukosa, glikogen siap dibongkar menjadi
energi atau ATP. Glikogen akan dilarutkan menjadi laktasinogen,kemudian
diuraikan menjadi glukosa dan asam susu. Glukosa akan diubah menjadi energi
melalui peristiwa respirasi aerob dan anaerob. Pengubahan glukosa menjadi aerob
terjadi jika persediaan oksigen di otot telah menipis.
· Secara anaerob
Glukosa (C6H12O6) asam laktat + 2 ATP.
Timbunan asam
laktat yang berlebihan di dalam otot dapat menyebabkan rasa letih. Rasa letih
akan hilang jika asam laktat telah dioksidasi oleh oksigen menjadi H2O dan CO2,
serta menghasilkan energi. Energi ini dapat di gunakan untuk mengubah asam
laktat menjadi glukosa.
Kontraksi otot dipengaruhi
oleh beberapa faktor antara lain ( Santosa 2006) :
a. Treppe atau staircase effect, yaitu meningkatnya
kekuatan kontraksi berulang kali pada suatu serabut otot karena stimulasi
berurutan berseling beberapa detik. Pengaruh ini disebabkan karena konsentrasi
ion Ca2+ di dalam serabut otot yang meningkatkan aktivitas miofibril.
b. Summasi, berbeda dengan treppe, pada summasi tiap otot
berkontraksi dengan kekuatan berbeda yang merupakan hasil penjumlahan kontraksi
dua jalan (summasi unit motor berganda dan summasi bergelombang).
c. Fatique adalah menurunnya kapasitas bekerja karena
pekerjaan itu sendiri.
d. Tetani adalah peningkatan frekuensi stimulasi dengan
cepat sehingga tidak ada peningkatan tegangan kontraksi.
e. Rigor terjadi bila sebagian terbesar ATP dalam otot
telah dihabiskan, sehingga kalsium tidak lagi dapat dikembalikan ke RS melalui
mekanisme pemompaan.
Saat kontraksi terjadi, filamen aktin akan berjalan di
antara miosin ke dalam zona H (zona H, yaitu bagian terang di antara dua pita
gelap). Dengan keadaan yang demikian itu, terjadi pemendekan serabut otot.
Namun demikian, ada serabut yang tetap panjang, yaitu garis M (anisotrop/pita
gelap), sedangkan garis Z (isotrop/pita terang) dan daerah H bertambah pendek
waktu terjadi kontraksi. Bagian ujung miosin dapat berkaitan dengan ATP dan
menghidrolisis ATP tersebut menjadi ADP. Energi dilepaskan dengan cara mencegah
pemindahan ATP ke miosin yang diubah bentuk menjadi konfigurasi energi tinggi.
Miosin yang berenergi tinggi tersebut kemudian berikatan dengan aktin membentuk
jembatan silang. Segera setelah terbentuk, jembatan silang tersebut membebaskan
sejumlah energi dan menyampaikan energi tersebut ke arah aktin. Proses ini
menyebabkan aktin mengerut. Secara keseluruhan sarkomer ikut mengerut yang
mengakibatkan otot pun berkerut. Kepala miosin akan lepas dari aktin. Proses
ini memerlukan ATP yang diambil dari sekitarnya. Dengan peristiwa ini, maka
aktin akan lepas dari miosin. Secara keseluruhan otot akan relaksasi kembali.
( Setiadi : 2007 )
Proses ini berulang sampai 5 kali dalam jangka waktu
satu detik. Kontraksi otot akan berlangsung selama ada rangsangan, apabila
tidak ada rangsangan maka ion kalsium akan direabsorpsi. Pada saat itu pun
troponin dan tropomiosin tidak memiliki sisi aktif lagi dan sarkomer dalam
keadaan istirahat memanjang berelaksasi. ( Setiadi : 2007 )
2.5 Sifat Kerja
Otot
Sifat kerja otot dibedakan menjadi dua, yaitu :
( Datu, Razak : 2004 )
A. Antagonis
Otot antagonis
adalah dua otot atau lebih yang tujuan kerjanya berlawanan. Jika otot pertama
berkontraksi dan yang kedua berelaksasi, akan menyebabkan tulang tertarik atau
terangkat. Sebaliknya, jika otot pertama berelaksasi dan yang kedua
berkontraksi akan menyebabkan tulang kembali ke posisi semula. Contoh otot
antagonis adalah otot bisep dan trisep. Otot bisep adalah otot yang memiliki
dua ujung (dua tendon) yang melekat pada tulang dan terletak di lengan atas
bagian depan. Otot trisep adalah otot yang memiliki tiga jung (tiga tendon)
yang melekat pada tulang, terletak di lengan atas bagian belakang. Untuk
mengangkat lengan bawah, otot bisep berkontraksi dan otot trisep berelaksasi.
Untuk menurunkan lengan bawah, otot trisep berkontraksi dan otot bisep berelaksasi. ( Irianto, Kus : 2004 )
Antagonis juga adalah kerja otot yang kontraksinya
menimbulkan efek gerak berlawanan, contohnya adalah:
1.
Ekstensor( meluruskan) dan fleksor (membengkokkan), misalnya otot trisep
dan otot bisep.
2. Abduktor
(menjauhi badan) dan adductor (mendekati badan) misalnya gerak tangan sejajar
bahu dan sikap sempurna.
3. Depresor
(ke bawah) dan adduktor (ke atas), misalnya gerak kepala merunduk dan
menengadah.
4.
Supinator (menengadah) dan pronator (menelungkup), misalnya gerak
telapak tangan menengadah dan gerak telapak tangan menelungkup.
B. Sinergis
Sinergis juga adalah otot-otot yang kontraksinya
menimbulkan gerak searah. Contohnya pronator teres dan pronator kuadratus (Otot
yang menyebabkan telapak tngan menengadah atau menelungkup). Otot sinergis adalah dua otot atau lebih yang
bekerja bersama – sama dengan tujuan yang sama. Jadi, otot – otot itu
berkontraksi bersama dan berelaksasi bersama.
Misalnya, otot – otot antar tulang rusuk yang bekerja
bersama ketika kita menarik napas, atau otot pronator, yaitu otot yang
menyebabkan telapak tangan menengadah atau menelungkup. Gerakan pada bagian
tubuh, umumnya melibatkan kerja otot, tulang, dan sendi. Apabila otot
berkontraksi, maka otot akan menarik tulang yang dilekatinya sehingga tulang
tersebut bergerak pada sendi yang dimilikinya. ( Bafirman: 2007
)
Otot yang
sedang bekerja akan berkontraksi sehingga otot akan memendek, mengeras, dan
bagian tengahnya menggembung. Karena memendek, tulang yang dilekati otot
tersebut tertarik atau terangkat. Kontraksi satu macam otot hanya mampu untuk
menggerakan tulang ke satu arah tertentu. Agar tulang dapat kembali ke posisi
semula, otot tersebut harus mengadakan relaksasi. Namun relaksasi otot ini saja
tidak cukup.
2.6. Kelainan-kelainan pada Otot
Antara Lain
1. Atrofi
otot, merupakan penurunan fungsi otot karena otot mengecil atau karena
kehilangan kemampuan berkontraksi, misalnya lumpuh.
2. Distorsi
otot, penyakit ini diperkirakan merupakan penyakit genetis dan bersifat kronis
pada otot anak-anak.
3. Hipertrofi
otot, merupakan kelainan otot yang menyebabkan otot menjadi lebih besar dan
lebih kuat karena sering digunakan, misalnya pada binaragawan.
4. Hernia
abdominal, kelainan ini terjadi apabila dinding otot abdominal sobek dan
menyebabkan usus melorot masuk ke rongga perut.
5. Kelelahan
otot, karena kontraksi secara terus-menerus menyebabkan kram atau kejang.
6. Tetanus,
merupakan penyakit yang menyebabkan otot menjadi kejang karena bakteri tetanus.
7. Keseleo,
tertariknya tendon didaerah persendian dan jika terlalu keras bisa menyebabkan
putusnya otot.
8. Nyeri otot
, aliran darah yang terhambat sehingga menyebabkan peredaran darah tidak
lancer.
BAB
III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Otot adalah kumpulan sel-sel otot yang membentuk
jaringan yang berfungsi menyelenggarakan gerakan organ tubuh. Otot merupakan jaringan pada tubuh hewan
yang bercirikan mampu berkontraksi, aktivitas biasanya dipengaruhi oleh
stimulus dari sistem saraf. Berdasarkan cara kerja
dan bentuknya, sel otot dibedakan menjadi tiga
macam, yaitu Otot Lurik, Otot Polos dan
Otot Jantung. Otot juga memiliki beberapa
karakteristik, yaitu kontrakbilitas ektensibilitas, dan elastisitas. Mekanisme kontraksi otot, dimulai dengan pembentukan
kolin menjadi asetilkolin yang terjadi di dalam otot. Proses itu akan diikuti
dengan penggabungan antara ion kalsium, troponium, dan tropomisin
3.2 Saran
Sistem Muscular merupakan suatu sistem yang
menyelenggarakan gerakan pada organ tubuh, dengan adanya sistem ini kita
sebagai manusia dapat beraktifikas sehari-hari. Oleh karena itu kita harus
menjaga otot agar tetap sehat, contohnya dengan melakukan olahraga secara
rutin, mengonsumsi makanan sehat, dan tidur secara teratur. Sehingga diharapkan
setelah ini kita mulai memahami secara mendalam mengenai Anatomi Fisiologi
Manusia mengenai Sistem Muscular dan juga dapat menyadari pentingnya muscular
bagi tubuh.
Daftar Pustaka
Arthur
J. Vander (1986). Human Physiology, 4th ed. Mc
Graw: Hill Internasional Editions.
Razak.
Datu (2004). Bagian Anatomi Fakultas Kedokteran Unhas.
Jakarta: Gitamedia.
Kus.
Irianto (2004). Struktur dan Fungsi Tubuh Manusia untuk Paramedis.
Gramedia: Jakarta.
Setiadi.2007.Anatomi
Fisiologi Manusia. Yogyakarta. Graham Ilmu
Syaifuddin
(1997). Anatomi dan Fisiologi Untuk Siswa Perawat. Jakarta: EGC.
Wulangi.
S Kartolo (2000). Prinsip-prinsip Fisiologi Manusia. DepDikBud:
Bandung
Bafirman, 2007. Buku Ajar
Fisiologi Olahraga. Padang: Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri
Padang.
Griwijoyo, Santosa. 2006. Ilmu
Faal Olahraga, Fungsi Tubuh Manusia pada Olahraga untuk Kesehatan dan untuk
Prestasi. Yogyakarta: Graham Ilmu
No comments:
Post a Comment