Saturday, March 9, 2019

ANATOMI FISIOLOGI MANUSIA SISTEM MUSCULAR



BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Gerak manusia dihasilkan oleh kontraksi otot yang menghasilkan gaya untuk menggerakkan anggota badan. Pada gerak sadar, sinyal perintah dari pusat sistem syaraf ditransmisikan melalui syaraf tulang belakang (spinal cord) lalu ke otot untuk menghasilkan gaya. Otot berfungsi dengan normal jika antara sistem syaraf, spinal cord, dan otot terhubung secara utuh dan bekerja dengan baik. Kerusakan pada sistem syaraf yang diakibatkan penyakit yang menyerang syaraf tulang belakang (spinal cord injury, SCI) akan mengganggu sinyal perintah mencapai otot.(Bafirman : 2007 )

Otot adalah sebuah jaringan konektif yang tugas utamanya adalah berkontraksi yang berfungsi untuk menggerakan bagian-bagian tubuh baik yang di sadari maupun yang tidak. Sekitar 40% berat dari tubuh kita adalah otot. Tubuh manusia memiliki lebih dari 600 otot rangka. Otot memiliki sel-sel yang tipis dan panjang. Otot bekerja dengan cara mengubah lemak dan glukosa menjadi gerakan dan energi panas. Otot rangka melekat pada tulang secara langsung ataupun dengan bantuan tendon. Otot bekerja berpasangan satu berkontraksi dan lawannya relaksasi sehingga otot bisa menggerakan berbagai bagian dari tubuh manusia seperti lutut yang bisa dibengkokan maupun di luruskan.

Otot manusia merupakan suatu alat yang penting untuk menunjang pergerakan atau selama aktifitas. Pergerakan otot sadar diawali dengan adanya sebuah sinyal dari syaraf motorik (gerak) yang memerintahkan agar otot ini bergerak sesuai dengan batasan kemampuan geraknya. Tanggapan atau reaksi otot ini sepenuhnya tergantung pada kondisi otot itu sendiri. Sehingga apabila kondisi otot tersebut terganggu, maka pergerakan yang terjadi akibat kontraksi otot tersebut akan berjalan lambat dan tidak maksimal.



1.2  Rumusan Masalah
1.2.1        Bagaimanakah Pengertian dari Sistem Otot ?
1.2.2        Bagaimanakah Macam-Macam Bentuk Pada Otot ?
1.2.3        Bagaimanakan Jenis Jenis Otot ?
1.2.4        Bagaimanakah Mekanisme Kerja Otot ?
1.2.5        Bagaimanakah Sifat Kerja Otot ?
1.2.6        Bagaimanakah Kelainan kelainan pada Otot

1.3  Tujuan
1.3.1        Dapat Mengetahui Dan Memahami Bagaimana Pengertian Pada Sistem Otot
1.3.2        Dapat Mengetahui Dan Memahami Bagaimana Macam Macam Bentuk Otot
1.3.3        Dapat Mengetahui Dan Memahami Bagaimana Jenis Jenis Pada Otot
1.3.4        Dapat Mengetahui Dan Memahami Bagaimana Mekanisme Kerja Pada Otot
1.3.5        Dapat Mengetahui Dan Memahami Bagaimana Sifat Kerja Pada Otot
1.3.6        Dapat Mengetahui Dan Memahami Bagaimana Kelainan Kelainan Pada Otot











BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Otot
Otot merupakan suatu organ atau alat yang memungkinkan tubuh dapat bergerak  adalah suatu sifat penting bagi organisme. Gerak sel terjadi karena sitoplasma merubah bentuk. Pada sel-sel, sitoplasma ini merupakan benang-benang halus yang panjang disebut miofibril. Kalau sel otot mendapat rangsangan maka miofibril akan memendek, dengan kata lain sel otot akan memendekkan dirinya ke arah tertentu (berkontraksi) (Kartolo S. Wulangi: 2000)
Sistem Muskular ini merupakan sistem jaringan yang disebut otot pada tubuh manusia yang memungkinkan kita untuk dapat  bergerak. Sebagian besar otot pada tubuh berada di bawah kendali sadar dan digerakkan oleh perintah otak melalui suatu  sistem saraf.  Setiap orang memiliki lebih dari enam ratus otot, yang dilayani oleh saraf yang menghubungkan setiap otot dengan otak dan tulang belakang.
Otot ini terbentuk dari jutaan filamen protein kecil yang bekerja bersama untuk menghasilkan gerak pada tubuh. otot dapat bergerak dan membuat kita mampu melakukan berbagai tindakan hanya dengan meregangkan dan mengerutkan. Otot mampu menarik, tetapi tidak bisa mendorong. Namun, beberapa otot (seperti otot jantung) yang tak sadar – bergerak secara teratur tanpa kendali kesadaran. Kecuali untuk otot tak sadar, serat-serat otot terhubung ke sistem kerangka oleh tendon dan jaringan lainnya.
Pada sistem otot terdapat 3 tipe jaringan otot yaitu otot rangka/skeletal, otot lurik/viseral dan otot jantung/kardiak.
Fungsi utama otot antara lain adalah (Vander: 1986) :
1. Body movement (pergerakan tubuh). Otot skeletal melekat pada tulang memiliki peran dalam pergerakan anggota tubuh dan dikontrol secara sadar (volunter). Contohnya pergerakan tangan, memegang suatu objek, berlari. Dsb.
2. Maintenance of posture (menjaga bentuk tubuh). Otot skeletal secara konstan menjaga tonus otot agar tetap tegang.
3. Respiration (respirasi). Otot dari torak bertanggung jawab pada pergerakan tulang rusuk saat terjadi proses pernapasan.
4. Production of body heat (menghasilkan panas tubuh). Ketika otot rangka berkontraksi akan dihasilkan panas sebagai produk kejadian tersebut dengan tujuan menjaga temperatur tubuh tetap konstan.
5. Communication (komunikasi).
6. Constriction of organs and vessels (konstriksi dari organ dan pembuluh darah). Kontraksi dari otot polos dalam dinding organ dari organ viseral dan pembuluh darah menyebabkan konstriksi dari organ tersebut. Konstriksi membantu pencampuran/pengadukan makanan di tractus digestivus, pengeluaran sekret dari organ dan regulasi aliran darah melalui pembuluh darah.
7. Heart beat (irama pompa jantung). Kontraksi otot jantung menyebabkan jantung secara ritmik memompa darah ke seluruh bagian tubuh
Otot memiliki 5 sifat, yaitu ( Vander: 1986 ) :
1)      Otot memiliki kemampuan berkontraksi dan berelaksasi
Kontraksi otot terjadi apabila otot menerima rangsangan. Kontraksi otot dikenal dengan penegangan otot. Dikenal dua macam kontraksi otot yaitu Isotonik dan Isometrik.Kontraksi isotonik adalah penegangan otot yang mengakibatkan otot mengalami pemendekan. Contohnya adalah orang yang mengangkat beban tidak terlalu berat sehingga beban terangkat. Kontraksi isometrik adalah timbulnya penegangan otot tanpa mengalami pemendekan.


2)      Elastisitas dan kekenyalan
Setelah mengalami pengembangan atau perpanjangan, otot mampu kembali pada bentuk dan ukuran semula. Contohnya, rahim yang berisi janin menjadi mengembang dan jika janin telah keluar, rahim dapat kembali seperti ukuran semula.
3)      Kepekaan terhadap rangsangan atau iritabilitas
Otot mampu mengadakan tanggapan atau respon apabila otot dirangsang. Ada 4 macam bentuk rangsangan yaitu : Mekanik (pijitan, pukulan), Kimia (larutan asam dan larutan garam), panas dan listrik (arus listrik yang diberikan terhadap otot atau saraf). Diantara keempat itu yang sering digunakan adalah rangsangan listrik. Bila otot jantung dirangsang, seluruh ototnya akan berkontraksi secara maksimal. Hal ini menggambarkan azas “semua atau tidak” atau dengan kata lain setiap kontraksi mencapai maksimal bila diberi rangsang. Azas ini juga berlaku untuk serabut otot.
4)      Sifat otot dapat mengalami kecapaian atau fatigueYaitu suatu keadaan yang ditandai oleh menurunnya kepekaan dan kemampuan menegang apabila otot dirangsang secara terus menerus dengan intensitas rangsang yang sama besar dengan frekuensi 1 rangsang perdetik maka pada suatu saat otot mengalami kehilangan kemampuan untuk kontraksi. Faktor lain yang dapat menimbulkan kecapaian adalah aktivitas yang berlebihan, kurng gizi, gangguan pada sisstem peredaran darah, pernafasan, endrokrin, dan sikap tubuh yang tidak betul.
5)      Otot dapat membesar (Hipertrofi)
Bila otot melakukan kerjaberat secara terus menerus, otot akan membesar yang disebut dengan hipertrofi. Otot yang mengalami hipertrofi diamater serabut ototnya meningkat dan jumlah zat didalam otot jugs bertambah. Sebaliknya, otot yang tidak digunakan menjadi kecil ( Atropi).
2.2 Macam Macam Otot
Terminologi (bahasa Latin: terminus) atau peristilahan adalah ilmu tentang istilah dan penggunaannya.



Menurut letaknya otot tubuh dibagi dalam beberapa golongan sebagai berikut (Datu: 2004):
1.      Otot bagian kepala
2.      Otot bagian leher
3.      Otot bagian perut
4.      Otot bagian anggota gerak atas
5.      Otot bagian anggota gerak bawah

1.      Otot Bagian kepala
Otot bagian kepala dibagi menjadi 5 bagian, yaitu:
1.      Otot pundak kepala, yang dibagi lagi menjadi 2 bagian yaitu:
a.       Muskulus frontalis, yang berfungsi mengerutkan dahidan menarik dahi mata
b.      Oksipitalis, terletak dibagian belakang yang berfungsi menarik kulit kebelakang
2.      Otot wajah , yang dibagi menjadi sub-sub sebagai berikut:
a.       Otot mata dan otot bola mata sebanyak 4 buah
b.      Muskulus obliges okuli/ otot bola mata yang terdapat disekeliling mata yang berfungsi memutar mata
c.       Muskulus orbicularis okuli/ otot lingkar mata yang terdapat di sekeliling mata, yang berfungsi sebagai penutup mata.
d.      Muskulus levator palpebra superior, terdapat pada kelopak mata yang fungsinya menarik, mengangkat kelopak mata keatas pada waktu membuka mata.
3.      Otot mulut/ bibir dan pipi, yang terbagi atas:
a.       Muskulus triangularis dan muskulus orbikularis oris/ otot sudut mulut, yang berfungsi menarik sudut mulut kebawah.
b.      Muskulus quadratus labii superior/ otot bibir atas yang mempunyai origo pinggir lekuk mata menuju bibir atas dan hidung.
c.       Muskulus quadratus labii inferior, terdapat pada dagu yang merupakan kelanjutan pada otot leher. Fungsinya adalah menarik bibir kebawah atau membentuk mimik muka kebawah
d.       Muskulus buksinator, yang memebentuk dinding sampai rongga mulut, fungsinya menahan makanan waktu mengunyah.
e.       Muskulus zigomatikus/ otot pipi, yang berfungsi untuk mengangkatdagu mulut keatas waktu senyum.
4.      Otot pengunyah, yang terbagia atas:
a.       Muskulus maseter, yang berfungsi mengngkat rahang bawah pada waktu mulut terbuka
b.      Muskulus temporalis, yang berfungsi menarik rahang bawah ketas dan kebelakang
c.       Muskulus pterogoid internus dan eksternus, yang berfungsi menarik rahang bawah kedepan.
5.      Otot lidah, yang terbagi atas:
a.       Muskulus genioglosus, yang berfungsi mendorong lidah kedepan
b.      Muskulus stiloglosus, yang berfungsi menarik lidah keatas dan kebelakang
2.      Otot bagian leher




Otot bagian leher dibagi menjadi 3 bagian, yaitu:
1.      Muskulus platisma, trdapat di samping leher menutupi sampai bagian dada. Fungsinya menekan mandibular, menarik bibir ke bawah dan mengerutkan kulit bibir.
2.      Muskulus sternokleido mastoid, terdapat di samping kiri dan kanan leher yang berfungsi menarik kepala kesamping kiri, kanan, dan memutar kepala.
3.      Muskulus longisimus kapitis, terdiri dari splenius dan semispinalis kapitis, ketiganya terdapat dibelakang leher dengan fungsi untuk menarik kepala belakang dan menggelengkan kepala.
3.      Otot bagian perut
Otot ini terdiri atas:
1.      Muskulus abdominalis internal (dinding perut)
2.      Linea alba, yaitu garis tengah dinding perut
3.      Muskulus abdominalis eksternal
4.      Muskulus obliqus eksternus abdominis
5.      Muskulus obliqus internus abdominis
6.      Muskulus tranversus abdominis


4.      Otot tungkai atas
Otot tungkai atas mempunyai selaput pembungkus yang sangat kuat dan disebut fasia lata yang dibagi menjadi 3 golongan, yaitu:
1.      Otot abductor, yang terdiri dari:
a.       Muskulus abduktor maldanus sebelah dalam
b.      Muskulus abduktor brevis sebelah tengah
c.       Muskulus abductor longis sebelah luar
Ketiga otot ini menjadi satu yang disebut muskulus abduktor femoralis. Fungsinya menyelenggarakan abduksidari femur.
2.      Muskulus eksentor ( qudriseps femoris)
Atau otot berkepala empat, yang terdiri dari:
a.       Muskulus rektus femoralis
b.      Muskulus vastus lateralis eksternal
c.       Muskulus vastus medialis internal
d.      Muskulus vastus intermedial
e.       Otot fleksor femoris, yang terdapat dibagian belakang paha yang terdiri dari :

5.      Otot tungkai bawah
Terdiri dari:
1.      Otot tulang kering depan muskulus tibialis anterior, fungsinya mengangkat pinggir kaki sebelah tengah dan membengkokan kaki
2.      Muskulus eksensor talangos longus, yang fungsinya malurus kan jari telunjuk ketengahan jari, jari manisdan kelingking kaki
3.      Otot jempol, fungsinya dapat meluruskan ibu jari kaki
4.      Urat arkiles (tendo arkhiles) yang fungsinya meluruskan kaki di sendi tumit dan membengkokan tungkai bawah lutut.
5.      Otottulang betis belakang ( muskulus tibialis posterior), fungsinya dapat  membengkokan kaki di sendi tumit dan telapak kaki sebelah kedalam
6.      Otot kedang jari bersama, fungsinya dapat meluruskan jari kaki ( muskulus ekstensor falangus). (Setiadi.2007)
Bagian-bagian otot pembentuk tubuh manusia, antara lain:
a.       Sarkolema
Sarkolema adalah membran yang melapisi suatu sel otot yang fungsinya sebagai pelindung otot.
b.      Sarkoplasma
Sarkoplasma adalah cairan sel otot yang fungsinya untuk tempat dimana miofibril dan miofilamen berada.
c.       Miofibril
Miofibril merupakan serat-serat pada otot.
d.      Miofilamen
Miofilamen adalah benang-benang atau filamen halus yang berasal dari miofibril. Miofibril terbagi atas 2 macam, yakni :
1.   Miofilamen homogen (terdapat pada otot polos).
2.   Miofilamen heterogen (terdapat pada otot jantung/otot cardiak dan pada otot     rangka/otot lurik).
Di dalam miofilamen terdapat protein kontaraktil yang disebut aktomiosin (aktin dan miosin), tropopin dan tropomiosin. Ketika otot kita berkontraksi (memendek) maka protein aktin yang sedang bekerja dan jika otot kita melakukan relaksasi (memanjang) maka miosin yang sedang bekerja.
2.3 Jenis jenis sistem otot     

Terdapat 3 jenis otot yang ditemukan pada vertebrata, yaitu otot rangka, otot jantung dan otot polos. Bila diteliti di bawah mikroskop, pada otot jantung dan otot rangka terlihat adanya garis-garis dan disebut otot lurik, sedang otot polos tidak ditemukan adanya garis-garis atau pun garisnya sangat halus, oleh karena itu disebut otot polos (Irianto Kus: 2004).
a. Otot Polos
Otot polos adalah salah satu otot yang mempunyai bentuk yang polos dan bergelondong. Cara kerjanya tidak disadari, memiliki satu nukleus yang terletak di tengah sel. Otot ini biasanya terdapat pada saluran pencernaan seperti lambung dan usus. Jaringan otot polos mempunyai serabut-serabut yang homogen sehingga bila diamati di bawah mikroskop tampak polos atau tidak bergaris-garis. Otot polos berkontraksi secara refleks dan di bawah pengaruh saraf otonom. Bila otot polos dirangsang, reaksinya lambat. Otot polos terdapat pada saluran pencernaan, dinding pembuluh darah, saluran pernafasan ( Setiadi: 20017 ).
Ciri otot polos, yaitu:
a)      Selnya berbentuk gelondong
b)      Gerakan ototnya lambat dan tidak cepat lelah.
c)        Bekerja diluar kesadaran
Sel otot polos bila dilihat di bawah mikroskop cahaya tidak menunjukan adanya garis-garis melintang. Otot polos vertebrata dapat dijumpai pada dinding organ-organ dalam dan pembuluh darah: saluran pencernaan, uterus, kendung kencing, ureter, arteri dan arteriole. Juga terdapat pada iris mata dan otot penggerak rambut. Struktur internal sel-sel otot polos nampak kurang terorganisasi secara baik dibandingkan dengan otot rangka dan otot jantung. Susunan filament tebal dan filament tipis dalam otot polos nampak hampir acak, organisasi sarkomerik dan pita Z nya tidak ada. Proporsi dan organisaasi filament tebal dan filament tipisnya berbeda, tidak tersusun sejajar tapi saling menyilang membentuk kisi-kisi. Rasio filament tebal dan tipis pada otot polos sebesar 1;16 (pada otot rangka 1: 2) .
Berdasarkan pada perbedaan dalam bagaimana serabut otot menjadi aktif , otot polos dikelompokkan menjadi  2 macam, yaitu otot polos unit jamak ( multi unit ) dan otot polos unit tunggal ( single unit). Otot polos unit jamak menunjukkan sifat-sifat antara otot rangka dan otot polos unit tunggal. Seperti nampak pada namanya, suatuotot polos unit jamak terdiri atas benyak unit-unit yang fungsinya secara bebas terpisah satu dengan yang lain, yang di stimulus secara terpisah oleh saraf untuk berkontraksi ( mirip dengan unit-unti motor pada otot rangka) jadi otot rangka dan otot polos unit jamak keduanya neurogenik, yaitu kontraksinya tergantung pada adanya impuls dari saraf. Namun berbeda dengan otot rangka, depolarisasi yang terjadi pada otot polos dalam merespon stimulasi saraf otonomik untuk menuju ke respon kontraktil adalah depolarisasi bertingkat ( pada otot rangka adalah potensial aksi). Kekuatan kontraktilnya tidak hanya tergantung pada jumlah unit-unit yang distimulasi dan kecepatan stimulasinya, tetapi juga pada pengaruh hormone-hormon dan obat-obatan yang sedang bersirkulasi. Otot polos unit jamak terdapat pada (1) dinding pembuluh darah besar ,(2) saluran udara besar ke paru-paru, (3) otot-otot mata yang mengatur lensa untuk melihat dekat atau jauh, (4) otot iris mata, dan  (5) otot pada dasar folikel rambut. (Syaifuddin: 1997)
Otot polos unit tunggal disebut juga ‘’otot polos viseral’’ sebab di jumpai pada dinding organ-organ berongga atau visera ( misalnya saluran pancernaan, alat reproduksi, saluran kencing dan pembuluh darah kecil). Istilah otot polos unit tunggal diambil dari fakta bahwa serabut-serabut otot polos yang menyusun otot ini menjadi aktif dan berkontraksi secara serempak sebagai suatu unit tunggal. Sel-sel otot polos unit tunggal secara kelistrikan  dihubungkan bersama oleh persambungan renggang ( gap junction). Bila suatu potensial aksi terjadi pada suatu daerah pada pembungkus otot polos unit tunggal, maka potensial aksi ini dengan cepat di sebarkan melalui titik-titik khusus  pada kontak kelistrikan ini ke seluruh kelompok sel yang bersambunganseperti ini, yang fungsinya secara kelistrikan  dan mekanik sebagi suatu unit, dikenal sebagai suatu sinsitsium fungsional. ( Bufirman: 2007)
Untuk berkontraksi, otot polos unit tunggal dapat mengaktifkan diri sendiri  ( self-excitable) tanpa memerlukan stimulus melalui saraf. Ternyata dalam otot polos unit tunggal ini ada kelompok-kelompok sel otot polos khusus yang mampu menghasilkan potensial aksi tanpa stimulasi eksternal sama sekali. Berbeda dengan sel-sel otot polos unit jamak, sel otot polos unit tunggal ini tidak menjaga potensial istirahat yang konstan, namun potensial membrannya berfluktuasi terus tanpa pengaruh eksternal sama sekali. Setiap serabut otot polos adalah sel tunggal berbentuk gelendong dengan satu nukleus, sel-sel itu tersusun dalam lembaran. Otot polos juga disebut otot tak berlurik karena tidak tampak adanya lurik melintang di bawah mikroskop cahaya. Otot polos dapat berkontraksi secara spontan, tetapi terutama dikendalikan oleh neuron motor dari sistem syaraf simpatik dan parasimpatik. Kerja otot polos jauh lebih lambat daripada kerja otot kerangka. Otot polos memerlukan waktu antara tiga detik sampai tiga menit untuk berkontraksi. Otot polos berbeda dengan otot kerangka dalam kemampuannya untuk tetap berkontraksi pada berbagai panjang. Keadaan ini disebut dengan tonus. Tonus (otot) adalah kontraksi otot yang selalu dipertahankan keberadaannya oleh otot itu sendiri. Otot polos bekerja di luar kesadaran.  ( Setiadi : 2007)
Kontraksi otot polos dapat melaksanakan bermacam-macam tugas, seperti meneruskan makanan dari mulut ke saluran pencernaan dan mengeluarkan urine. Otot polos  terdapat pada sistem pernapasan, sistem reproduksi, arteri, vena, pembuluh limfe yang besar, dermis, iris, dan korpus siliaris pada mata. Otot polos bertanggung jawab atas aktivitas tubuh tidak sadar, seperti gerakan lambung atau penyempitan arteri.
·         Cara kerja otot polos
Bila otot polos berkontraksi, maka bagian tengahnya membesar dan otot menjadi pendek . kerutan itu terjadi lambat . bila otot itu mendpat suatu ransang, maka reaksi tehadap  berasal dari susunan sara tak sadar(otot involunter), oleh karena itu otot polos tidak berada di bawah kehendak. Jadi, bekerja di luar kesadaran kita ( Setiadi: 2007 )
Ada dua kategori otot polos berdasarkan cara serabut otot distimulasi untuk berkontraksi.
·         Otot polos unit ganda ditemukan pada dinding pembuluh darah besar, pada jalan udara besar traktus respiratorik, pada otot mata yang memfokuskan lensa dan menyesuaikan ukuran pupil dan pada otot erektor pili rambut.
·         Otot polos unit tunggal (viseral) ditemukan tersusun dalam lapisan dinding organ berongga atau visera. Semua serabut dalam lapisan mampu berkontraksi sebagai satu unit tunggal. Otot ini dapat bereksitasi sendiri atau miogenik dan tidak memerlukan stimulasi saraf eksternal untuk hasil dari aktivitas listrik spontan
b.      Otot Lurik atau Otot Rangka
Otot rangka atau otot lurik  merupakan jenis otot yang melekat pada seluruh rangka, cara kerjanya disadari (sesuai kehendak), bentuknya memanjang dengan banyak lurik-lurik, memiliki nukleus banyak yang terletak di tepi sel. Nama lainnya adalah jaringan otot kerangka karena sebagian besar jenis otot ini melekat pada kerangka. Kontraksinya menurut kehendak kita dan di bawah pengaruh saraf sadar. Dinamakan otot luri. karena bila dilihat di bawah mikroskop tampak adanya garis gelap dan terang berselang-seling melintang di sepanjang serabut otot. Oleh sebab itu nama lain dari otot lurik adalah otot bergaris melintang. Contoh otot pada lengan. Kontraksi otot lurik berlangsung cepat bila menerima rangsangan, berkontraksi sesuai dengan kehendak dan di bawah pengaruh saraf sadar. Fungsi otot lurik untuk menggerakkan tulang dan melindungi kerangka dari benturan keras. Garis-garis pada otot lurik disebabkan oleh struktur miofibril-miofibril yang saling berkaitan.( Santosa: 2006 )
Ciri otot lurik, yaitu:
a)      Selnya berbentuk silindris dengan garis gelap terang,
b)      Bekerja secara sadar
c)       gerakannya cepat dan mudah lelah serta melekat pada rangka.
Unit struktural jaringan otot ialah serat otot. Serat otot rangka berdiameter 0,01-0,1 mm dgn panjang 1-40 mm. Besar dan jumlah jaringan, terutama jaringan elastik, akan meningkat sejalan dengan penambahan usia. Setiap 1 serat otot dilapisi oleh jaringan elastic tipis yg disebut sarcolemma. Protoplasma serat otot uang berisi materi semicair disebut sarkoplasma. Sarkolema yang dibungkus oleh endomesium yaitu jaringan ikat yang banyak mengandung serabut kolagen, reticulum dan elastin. Beberapa serabut tunggal akan bergabung menjadi satu berkas yang disebut fasikulus. Fasikulus dibungkus oleh jaringan ikat yang disebut perimesium. Seluruh fasikulus dibungkus secara bersama –sama oleh epimesium menjadi sebuah berkas yang biasa kita sebut sebagai otot.
Endomesium, perimesium dan epimesium bergabung bersama membentuk tendon atau urat untuk melekatkan otot pada tulang atau jaringan yang lain. Otot rangka diinervasi oleh system saraf somatic.Bila kita memisahkan satu sel otot dari fasikulusnya maka dapat dilihat bahwa di dalam sel otot tersebut terdapat beratus-ratus  serabut halus yang tersusun sejajar dan homogen, yang dikenal dengan nama myofibril. Bila  diamati lebih lanjut akan nampak bahwa di dalam setiap myofibril terdapat miofilamen tebal dan miofilamen tipis yang tersusun  sejajar namun tidak homogen, sehingga memberikan gambaran pita gelap-terang myofibril.(Santosa: 2006 )
Pita gelap disebut sebagai pita A ( A=Anisotropik ), merupakan bagian yang ditempati filament tebal dan tipis. Ditengah-tengah pita A terdapat daerah yang agak terang, disebut sebagai zona H (H= Heller yang berarti cahaya). Pita H merupakan bagian dari myofibril yang dibangun oleh miofilamen tebal. Pita yang terang disebut pita I ( Isotropik ), yang ditengahnya terdapat garis berbentuk gambaran garis Z (Z= Zwischensheibe,yang berarti cakram antara). Pita I merupakan bagian pada myofibril yang dibatasi oleh garis Z disebut sarkomer,yang panjangnya sekitar 2 um. Jadi setiap sarkomer terdiri atas pita A yang kedua ujungnya diapit oleh pita I. dengan adanya pita A dan I yang tersusun berselang seling ini maka otot rangka tampaka bergaris-garis melintang sehingga disebut sebagai otot lurik. Sarkomer disebut  juga sebagi unit fungsional atau unit kontraksi otot, sebab peristiwa kontraksi otot terjadi pada setiap sarkomer.
·         Cara kerja otot lurik
Bila otot lurik berkotraksi, maka menjadi pendek dan setiap serabut turut dengan berkontraksi. Otot-otot jenis ini hanya berkontraksi jika di rangsang oleh rangsang saraf sadar(otot  olunteer).kerja otot lurik adalah bersifat sadar, karena itu di sebut otot sadar,artinya bekerjaya menurut kemauanadar, karena itu di sebut otot sadar,artinya bekerjaya menurut kemauan atau perintah otak. Reaksi kerja otot lurik terhadap perangsang cepat,tapi tidak tahan kelelahan.         
c.       Jaringan Otot Jantung
Otot jantung berbentuk silindris atau serabut pendek. Otot ini tersusun atas serabut lurik yang bercabang-cabang dan saling berhubungan satu dengan lainnya. Setiap sel otot jantung mempunyai satu atau dua inti yang terletak di tengah sarkoplasma. Otot jantung bekerja di luar kehendak (otot tidak sadar) atau disebut juga otot involunter dan selnya dilengkapi serabut saraf dari saraf otonom. Kontraksi otot jantung berlangsung secara otomatis, teratur, tidak pernah lelah, dan bereaksi lambat. Dinamakan otot jantung karena hanya terdapat di jantung. Kontraksi dan relaksasi otot jantung menyebabkan jantung menguncup dan mengembang untuk mengedarkan darah ke seluruh tubuh. Ciri khas otot jantung adalah mempunyai diskus interkalaris, yaitu pertemuan dua sel yang tampak gelap jika dilihat dengan mikroskop.
·         Cara kerja otot jantung
Gerak otot jantung dikendalikan oleh saraf tak sadar (otonom). Kontraksi dan relaksasi otot jantung menyebabkan serambi dan bilik jantung menyempit dan melebar secara berirama yang menimbulkan denyut jantung. Dengan adanya kontraksi dan relaksasi, darah dipompa ke dalam pembuluh-pembuluh darah dan dialirkan ke seluruh tubuh. Dalam keadaan normal jantung akan berkontraksi sekitar 72 kali setiap menit. ( Syaifuddin: 1997)
2.4 Kontraksi dan Relaksasi Otot
Kontraksi otot adalah proses terjadinya pengikatan aktin dan miosin sehingga otot memendek. Aktin merupakan bentuk jaring otot yang berfungsi untuk membentuk permukaan sel, pigmen penyusun otot yang berdinding tipis, protein yang merupakan unsur kontraksi dalam otot, sedangkan miosin adalah protein dalam otot yang mengatur kontraksi dan relaksasi filamen penyusun otot yang berdinding tebal. Otot memiliki beberapa karakteristik, yaitu (Datu: 2004):
a.       Kontraktibilitas, yaitu kemampuan untuk memendek;
b.      Ekstensibilitas, yaitu kemampuan untuk memanjang;
c.       Elastisitas, yaitu kemampuan untuk kembali ke ukuran semula setelah memendek atau memanjang.

Metode pergeseran filamen dijelaskan melalui mekanisme kontraksi pencampuran aktin dan miosin membentuk kompleks akto-miosin yang dipengaruhi oleh ATP.. Tahap selanjutnya, tahap relaksasi konformasional kompleks aktin, miosin, danADP-Pi secara bertahap melepaskan ikata n dengan Pi dan ADP, proses terkait dan terlepasnya aktin menghasilkan gaya fektorial. (Vander: 1986)
Mekanisme kontraksi otot, dimulai dengan pembentukan kolin menjadi asetilkolin yang terjadi di dalam otot. Proses itu akan diikuti dengan penggabungan antara ion kalsium, troponium, dan tropomisin. Penggabungan ini memacu penggabungan miosin dan aktin menjadi akto-miosin. Terbentuknyaakto-miosin menyebabkan sel otot memendek (berkontraksi) pada plasma sel, ion kalsium akan berpisah dari troponium sehingga aktin dan miosin juga terpisah dan otot akan kembali relaksasi. Saat kontraksi, filamen aktin akan meluncur atau mengerut diantara miosin ke dalam zona H (Zona H adalah bagian terang antara 2 pita), dengan demikian serabut otot memendek atau yang tetap panjang adalah pita A (pita Gelap), sedangkan pita I (pita terang) dan zona H bertambah pendek pada saat kontraksi. ( Irianto : 2004)
Ujung miosin dapat mengikat ATP dan menghidrolisis menjadi ADP. Beberapa energi dilepaskan dengan cara memotong pemindahan ATP ke miosin yang berubah ke konfigurasi energi tinggi. Miosin yang berenergi tinggi ini kemudian mengikatkan diri dengan kedudukan khusus pada aktin membentuk jembatan silang, kemudian simpanan energi miosin dilepaskan dan ujung miosin lalu beristirahat dengan energi rendah pada saat ini terjadi relaksasi. Mekanisme otot ketika berelaksasi, relaksasi terjadi jika ion-ion Ca++ dipompa lagi masuk ke dalam retikulum sarkoplasma secara transport aktif dengan bantuan ATP, sehingga binding site aktin kembali tertutupi oleh tropomiosin, cross bridge tidak dapat terjadi dan relaksasi terjadi.
Mekanisme Kontraksi Otot
Dasar untuk mengetahui kontraksi otot adalah Model Pergeseran Filamen yang pertama kali dikemukakan tahun 1954 oleh Andrew Huxley dan Ralph Niederge dan oleh Hugh Huxley dan Jean Hanson. Selama kontraksi otot, setiap sarkomer memendek, menyebabkan garis Z menutup bersama. Tidak ada perubahan pada ukuran daerah A tetapi daerah I dan zona H hampir tidak terlihat. Perubahan ini diterangkan oleh filamen aktin dan myosin yang bergeser melewati satu sama lain, sehingga filamen aktin berpindah menuju daerah A dan zona H. Kontraksi otot dengan demikian akibat dari interaksi diantara filamen aktin dan myosin yang menghasilkan pergerakan yang relatif satu sama lain. Dasar molekuler untuk interaksi ini adalah ikatan myosin ke filamen aktin menyebabkan myosin berfungsi sebagai penggerak pergeseran filamen. ( Santosa : 2006)
Tipe myosin yang terdapat pada otot (myosin II) adalah jenis protein yang besar (sekitar 500 kd) yang terdiri dari dua rantai berat yang identik dan dua pasang rantai ringan. Setiap ikatan gelap terdiri atas gugus kepala globuler dan ujung α-heliks yang panjang. Ujung α-heliks dari dua rantai berat yang kembar di sekitar satu sama lain di dalam struktur gulungan untuk membentuk dimer dan dua rantai ringan yang terhubung dengan bagian leher tiap gugus kepala untuk membentuk molekul myosin yang komplet.
Filamen tebal otot terdiri dari beberapa ribu molekul myosin yang berhubungan dalam pergiliran pararel disusun oleh interaksi diantara ujung-ujungnya. Kepala globuler myosin mengikat aktin membentuk jembatan diantara filamen tebal dan tipis. Ini penting dicatat bahwa orientasi molekul myosin pada filamen tipis berkebalikan pada garis M sarkomer. Polaritas filamen aktin sama berkebalikan pada garis M sehingga orientasi filamen aktin dan myosin adalah sama pada kedua bagian sarkomer. Aktivitas penggerak myosin memindahkan gugus kepalanya sepanjang filamen aktin pada arah ujung positif. Pergerakan ini mengegeser filamen aktin dari kedua sisi sarkomer terhadap garis M, memendekkan sarkomer dan menyebabkan kontraksi otot. Penambahan ikatan aktin, kepala myosin mengikat dan kemudian menghidrolisis ATP yang menyediakan energi untuk menggerakkan pergeseran filamen. Pengubahan energi kimia untuk pegerakan ditengahi oleh perubahan bentuk myosin akibat pengikatan ATP. Model ini secara luas diterima bahwa hidrolisis ATP mengakibatkan siklus yang berulang pada interaksi diantara kepala myosin dan aktin. Selama tiap siklus, perubahan bentuk pada myosin mengakibtkan pergerakan kepala myosin sepanjang filamen aktin.                  ( Santosa : 2006)

Walaupun mekanisme molekuler masih belum sepenuhnya diketahui, model yang diterima secara luas untuk menjelaskan fungsi myosin diturunkan dari penelitian in vitro tentang pergerakan myosin di sepanjang filamen aktin (oleh James Spudich dan Michael Sheetz) dan dari determinasi struktur 3 dimensi myosin (oleh Ivan Rayment dan koleganya). Siklus dimulai dari myosin (tanpa adanya ATP) yang berikatan dengan aktin. Pengikatan ATP memisahkan kompleks myosin-aktin dan hidrolisis ATP kemudian menyebabkan perubahan bentuk di myosin. Perubahan ini mempengaruhi daerah leher myosin yang terikat pada ikatan terang yang bertindak sebagai lengan pengungkit untuk memindahkan kepala myosin sekitar 5 nm. Produk hidrolisis meninggalkan ikatan pada kepala myosin yang disebut “posisi teracung”. Kepala myosin kemudian mengikat kembali filamen aktin pada posisi baru, menyebabakan pelepasan ADP + Pi yang menggerakkannya. ( Santosa : 2006 )
Kejadian biokimiawi yang penting dalam mekanisme kontraksi dan relaksasi otot dapat digambarkan dalam 5 tahap yakni sebagai berikut ( Irianto:  2006 ):
a.      Dalam fase relaksasi pada kontraksi otot, kepala S1 myosin menghidrolisis ATP menjadi ADP dan Pi, namun kedua produk ini tetap terikat. Kompleks ADP-Pi- myosin telah mendapatkan energi dan berada dalam bentuk yang dikatakan sebagai bentuk energi tinggi.
b.      Kalau kontraksi otot distimulasi maka aktin akan dapat terjangkau dan kepala myosin akan menemukannya, mengikatnya serta membentuk kompleks aktin-myosin-ADP-Pi.
c.       Pembentukan kompleks ini meningkatkan Pi yang akan memulai cetusan kekuatan. Peristiwa ini diikuti oleh pelepasan ADP dan disertai dengan perubahan bentuk yang besar pada kepala myosin dalam sekitar hubungannya dengan bagian ekornya yang akan menarik aktin sekitar 10 nm ke arah bagian pusat sarkomer. Kejadian ini disebut cetusan kekuatan (power stroke). Myosin kini berada dalam keadaan berenergi rendah yang ditunjukkan dengan kompleks aktin-myosin.
d.      Molekul ATP yang lain terikat pada kepala S1 dengan membentuk kompleks aktin-myosin-ATP.
e.      Kompleks aktin-ATP mempunyai afinitas yang rendah terhadap aktin dan dengan demikian aktin akan dilepaskan. Tahap terakhir ini merupakan kunci dalam relaksasi dan bergantung pada pengikatan ATP dengan kompleks aktin-myosin.
Membran SR yang secara normal non-permeabel terhadap Ca2+ itu mengandung sebuah transmembran Ca2+-ATPase yang memompa Ca2+ kedalam SR untuk mempertahankan konsentrasi [Ca2+] bagi otot rileks. Kemampuan SR untuk dapat menyimpan Ca2+ ditingkatkan lagi oleh adanya protein yang bersifat amat asam yaitu kalsequestrin (memiliki situs lebih dari 40 untuk berikatan dengan Ca2+). Kedatangan impuls saraf membuat SR menjadi permeabel terhadap Ca2+.Akibatnya, Ca2+ berdifusi melalui saluran-saluran Ca2+ khusus menuju interior miofibril, dan konsentrasi internal [Ca2+] akan bertambah. Peningkatan konsentrasi Ca2+ ini cukup untuk memicu perubahan konformasional dalam troponin dan tropomiosin. Akhirnya, kontraksi otot terjadi dengan mekanisme “perahu dayung” tadi. Saat rangsangan saraf berakhir, membran SR kembali menjadi impermeabel terhadap Ca2+ sehingga Ca2+ dalam miofibril akan terpompa keluar menuju SR. Kemudian otot menjadi rileks seperti sediakala. ( Bafirman : 2007 )
Mekanisme kerja otot pada dasarnya melibatkan suatu perubahan dalam keadaan yang relatif dari filamen-filamen aktin dan myosin. Selama kontraksi otot, filamen-filamen tipis aktin terikat pada dua garis yang bergerak ke Pita A, meskipun filamen tersebut tidak bertambah banyak.Namun, gerakan pergeseran itu mengakibatkan perubahan dalam penampilan sarkomer, yaitu penghapusan sebagian atau seluruhnya garis H.
Energi untuk Kontraksi Otot
Kontraksi otot memerlukan energi. Energi yang digunakan disuplai dalam bentuk energi kimia. Energi ini diambil dari molekul ATP (adenosin trifosfat) dan kreatin fosfat (CP) yang berenergi tinggi. Energi ini menggerakkan filamen penghubung antara aktin dan miosin. Kreatin fosfat menyumbangkan fosfor  pada ADP  selama oto berkontraksi. ATP yang dihidrolisis akan terurai menjadi ADP , ADP ini pun juga akan terurai menjadi AMP (adenosin monofosfat). (Bafirman : 2007 )
ATP       ADP + P + E
ADP       AMP  +  P + E
Jika perbandingan energi habis, maka otot tidak akan berkontraksi lagi. Untuk gerak berikutnya, perlu segera di bentuk energi yang bersal dari pemecahan molekul glukosa. Fase ini disebut fase aerob.

·           Secara aerob
Glukosa  (C6H12O6) + O2        6H2O + 6CO2 + 38 ATP.
Di dalam otottersimpan gulaotot, yaitu glikogen. Glikogen merupakan bentuk glukosa cadangan di dalam otot. Seperti halnya glukosa, glikogen siap dibongkar menjadi energi atau ATP. Glikogen akan dilarutkan menjadi laktasinogen,kemudian diuraikan menjadi glukosa dan asam susu. Glukosa akan diubah menjadi energi melalui peristiwa respirasi aerob dan anaerob. Pengubahan glukosa menjadi aerob terjadi jika persediaan oksigen di otot telah menipis.
·           Secara anaerob
Glukosa  (C6H12O6)                asam laktat + 2 ATP.
Timbunan asam laktat yang berlebihan di dalam otot dapat menyebabkan rasa letih. Rasa letih akan hilang jika asam laktat telah dioksidasi oleh oksigen menjadi H2O dan CO2, serta menghasilkan energi. Energi ini dapat di gunakan untuk mengubah asam laktat menjadi glukosa.
Kontraksi otot dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain ( Santosa 2006) :
a.      Treppe atau staircase effect, yaitu meningkatnya kekuatan kontraksi berulang kali pada suatu serabut otot karena stimulasi berurutan berseling beberapa detik. Pengaruh ini disebabkan karena konsentrasi ion Ca2+ di dalam serabut otot yang meningkatkan aktivitas miofibril.
b.      Summasi, berbeda dengan treppe, pada summasi tiap otot berkontraksi dengan kekuatan berbeda yang merupakan hasil penjumlahan kontraksi dua jalan (summasi unit motor berganda dan summasi bergelombang).
c.       Fatique adalah menurunnya kapasitas bekerja karena pekerjaan itu sendiri.
d.      Tetani adalah peningkatan frekuensi stimulasi dengan cepat sehingga tidak ada peningkatan tegangan kontraksi.
e.      Rigor terjadi bila sebagian terbesar ATP dalam otot telah dihabiskan, sehingga kalsium tidak lagi dapat dikembalikan ke RS melalui mekanisme pemompaan.

Saat kontraksi terjadi, filamen aktin akan berjalan di antara miosin ke dalam zona H (zona H, yaitu bagian terang di antara dua pita gelap). Dengan keadaan yang demikian itu, terjadi pemendekan serabut otot. Namun demikian, ada serabut yang tetap panjang, yaitu garis M (anisotrop/pita gelap), sedangkan garis Z (isotrop/pita terang) dan daerah H bertambah pendek waktu terjadi kontraksi. Bagian ujung miosin dapat berkaitan dengan ATP dan menghidrolisis ATP tersebut menjadi ADP. Energi dilepaskan dengan cara mencegah pemindahan ATP ke miosin yang diubah bentuk menjadi konfigurasi energi tinggi. Miosin yang berenergi tinggi tersebut kemudian berikatan dengan aktin membentuk jembatan silang. Segera setelah terbentuk, jembatan silang tersebut membebaskan sejumlah energi dan menyampaikan energi tersebut ke arah aktin. Proses ini menyebabkan aktin mengerut. Secara keseluruhan sarkomer ikut mengerut yang mengakibatkan otot pun berkerut. Kepala miosin akan lepas dari aktin. Proses ini memerlukan ATP yang diambil dari sekitarnya. Dengan peristiwa ini, maka aktin akan lepas dari miosin. Secara keseluruhan otot akan relaksasi kembali. ( Setiadi : 2007 )
Proses ini berulang sampai 5 kali dalam jangka waktu satu detik. Kontraksi otot akan berlangsung selama ada rangsangan, apabila tidak ada rangsangan maka ion kalsium akan direabsorpsi. Pada saat itu pun troponin dan tropomiosin tidak memiliki sisi aktif lagi dan sarkomer dalam keadaan istirahat memanjang berelaksasi. ( Setiadi : 2007 )
2.5  Sifat Kerja Otot
Sifat kerja otot dibedakan menjadi dua, yaitu : ( Datu, Razak : 2004 )
A.    Antagonis
 Otot antagonis adalah dua otot atau lebih yang tujuan kerjanya berlawanan. Jika otot pertama berkontraksi dan yang kedua berelaksasi, akan menyebabkan tulang tertarik atau terangkat. Sebaliknya, jika otot pertama berelaksasi dan yang kedua berkontraksi akan menyebabkan tulang kembali ke posisi semula. Contoh otot antagonis adalah otot bisep dan trisep. Otot bisep adalah otot yang memiliki dua ujung (dua tendon) yang melekat pada tulang dan terletak di lengan atas bagian depan. Otot trisep adalah otot yang memiliki tiga jung (tiga tendon) yang melekat pada tulang, terletak di lengan atas bagian belakang. Untuk mengangkat lengan bawah, otot bisep berkontraksi dan otot trisep berelaksasi. Untuk menurunkan lengan bawah, otot trisep berkontraksi dan otot bisep berelaksasi.   ( Irianto, Kus : 2004 )
Antagonis juga adalah kerja otot yang kontraksinya menimbulkan efek gerak berlawanan, contohnya adalah:
1.      Ekstensor( meluruskan) dan fleksor (membengkokkan), misalnya otot trisep dan otot bisep.
2.      Abduktor (menjauhi badan) dan adductor (mendekati badan) misalnya gerak tangan sejajar bahu dan sikap sempurna.
3.      Depresor (ke bawah) dan adduktor (ke atas), misalnya gerak kepala merunduk dan menengadah.
4.      Supinator (menengadah) dan pronator (menelungkup), misalnya gerak telapak tangan menengadah dan gerak telapak tangan menelungkup.
B. Sinergis
Sinergis juga adalah otot-otot yang kontraksinya menimbulkan gerak searah. Contohnya pronator teres dan pronator kuadratus (Otot yang menyebabkan telapak tngan menengadah atau menelungkup).  Otot sinergis adalah dua otot atau lebih yang bekerja bersama – sama dengan tujuan yang sama. Jadi, otot – otot itu berkontraksi bersama dan berelaksasi bersama.
Misalnya, otot – otot antar tulang rusuk yang bekerja bersama ketika kita menarik napas, atau otot pronator, yaitu otot yang menyebabkan telapak tangan menengadah atau menelungkup. Gerakan pada bagian tubuh, umumnya melibatkan kerja otot, tulang, dan sendi. Apabila otot berkontraksi, maka otot akan menarik tulang yang dilekatinya sehingga tulang tersebut bergerak pada sendi yang dimilikinya. ( Bafirman: 2007 )
 Otot yang sedang bekerja akan berkontraksi sehingga otot akan memendek, mengeras, dan bagian tengahnya menggembung. Karena memendek, tulang yang dilekati otot tersebut tertarik atau terangkat. Kontraksi satu macam otot hanya mampu untuk menggerakan tulang ke satu arah tertentu. Agar tulang dapat kembali ke posisi semula, otot tersebut harus mengadakan relaksasi. Namun relaksasi otot ini saja tidak cukup.





2.6. Kelainan-kelainan pada Otot Antara Lain
1.   Atrofi otot, merupakan penurunan fungsi otot karena otot mengecil atau karena kehilangan kemampuan berkontraksi, misalnya lumpuh.
2.   Distorsi otot, penyakit ini diperkirakan merupakan penyakit genetis dan bersifat kronis pada otot anak-anak.
3.   Hipertrofi otot, merupakan kelainan otot yang menyebabkan otot menjadi lebih besar dan lebih kuat karena sering digunakan, misalnya pada binaragawan.
4.   Hernia abdominal, kelainan ini terjadi apabila dinding otot abdominal sobek dan menyebabkan usus melorot masuk ke rongga perut.
5.   Kelelahan otot, karena kontraksi secara terus-menerus menyebabkan kram atau kejang.
6.   Tetanus, merupakan penyakit yang menyebabkan otot menjadi kejang karena bakteri tetanus.
7.   Keseleo, tertariknya tendon didaerah persendian dan jika terlalu keras bisa menyebabkan putusnya otot.
8.   Nyeri otot , aliran darah yang terhambat sehingga menyebabkan peredaran darah tidak lancer.










BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Otot adalah kumpulan sel-sel otot yang membentuk jaringan yang berfungsi menyelenggarakan gerakan organ tubuh. Otot merupakan jaringan pada tubuh hewan yang bercirikan mampu berkontraksi, aktivitas biasanya dipengaruhi oleh stimulus dari sistem saraf. Berdasarkan cara kerja dan bentuknya, sel otot dibedakan menjadi tiga macam, yaitu Otot Lurik, Otot Polos dan Otot Jantung. Otot juga memiliki beberapa karakteristik, yaitu kontrakbilitas ektensibilitas, dan elastisitas. Mekanisme kontraksi otot, dimulai dengan pembentukan kolin menjadi asetilkolin yang terjadi di dalam otot. Proses itu akan diikuti dengan penggabungan antara ion kalsium, troponium, dan tropomisin
3.2    Saran
Sistem Muscular merupakan suatu sistem yang menyelenggarakan gerakan pada organ tubuh, dengan adanya sistem ini kita sebagai manusia dapat beraktifikas sehari-hari. Oleh karena itu kita harus menjaga otot agar tetap sehat, contohnya dengan melakukan olahraga secara rutin, mengonsumsi makanan sehat, dan tidur secara teratur. Sehingga diharapkan setelah ini kita mulai memahami secara mendalam mengenai Anatomi Fisiologi Manusia mengenai Sistem Muscular dan juga dapat menyadari pentingnya muscular bagi tubuh. 










Daftar Pustaka
Arthur J. Vander (1986). Human Physiology, 4th ed. Mc Graw: Hill Internasional Editions.

Razak. Datu (2004). Bagian Anatomi Fakultas Kedokteran Unhas. Jakarta: Gitamedia.

Kus. Irianto (2004). Struktur dan Fungsi Tubuh Manusia untuk Paramedis. Gramedia: Jakarta.

Setiadi.2007.Anatomi Fisiologi Manusia. Yogyakarta. Graham Ilmu

Syaifuddin (1997). Anatomi dan Fisiologi Untuk Siswa Perawat. Jakarta: EGC.

Wulangi. S Kartolo (2000). Prinsip-prinsip Fisiologi Manusia. DepDikBud: Bandung

Bafirman, 2007. Buku Ajar Fisiologi Olahraga. Padang: Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Padang.    
Griwijoyo, Santosa. 2006. Ilmu Faal Olahraga, Fungsi Tubuh Manusia pada Olahraga untuk Kesehatan dan untuk Prestasi. Yogyakarta: Graham Ilmu

No comments:

Post a Comment